Sebetulnya udah bosen juga nonton film yang berbau misi gitu macam MI. Tapi yang bikin tertarik nonton film ini adalah, walaupun membawa misi berat tapi tetap seru. Kenapa? jadi kalau dipikir ya (kata temen sih), film-film Hollywood seperti sudah mulai kehabisan ide tentang teknologi mutakhir. Jadi kaya model wireless, gadget, dan alat-alat techno kayaknya udah ngga ada kejutannya. Mungkin karena itu ada film-film yang diadopsi dari serial jadul yang membawa nuansa kembali ke masa lalu, yang lebih menyenangkan pastinya.

Salah satu yang bisa saya bilang, ide untuk mengembalikan masa-masa jadul itu keren banget. Anak-anak 90an (kaya saya) paling tidak selalu ingin kembali ke masa itu. Apalagi masa-masa 60an yang memang jauh banget dari sekarang ini. Siapa sih yang ngga suka lihat fesyen classy dan elegan jaman 60an, atau melihat disket yang bukan berbentuk floppy disk, atau radio transistor yang entah gimana saya ngga tau cara makenya wekekek, atau alat-alat yang udah dirasa keren banget jaman itu. Semuanya lengkap ada di film ini.

Awalnya saat menonton film ini, saya merasa si Napoleon Solo (Henry Cavill) itu seperti suara yang saya dengar waktu tes TOEFL. Hahaha iya, logatnya British keamerikaan abis dan berasa suara jadul banget tapi rapi bahasanya. Bahkan saya baru kali ini melihat Henry Cavill main film soalnya ngga pernah nonton Man of Steel. Jadi agak-agak terpesona ngelihatnya 😀

Dan pemain satunya yang jadi Illya Kuryakin (Armie Hammer), saya baru saja tau semalam kalau ternyata dia ngga kembar wahahaha. Itu akibat kedodolan saya yang kena tipuan teknologi di Social Network. Saya baru ngeh, ternyata peran kembar yang diperankan si Armie Hammer itu cuma pake double body doang. Satu lagi yang menjadi pemeran utamanya adalah seorang agen Inggris yang bernama Gaby Teller (Alicia Vikander) yang kecil-kecil imut tapi tenaganya kuat banget euy.

SINOPSIS

Agen mata-mata Amerika, Rusia, dan Inggris bersatu untuk menjalankan sebuah misi rahasia dan berbahaya. Di mana mereka harus menggagalkan sebuah proyek bom nuklir yang akan diluncurkan oleh sepasang suami istri simpatisan Nazi. Hal ini menjadi tidak mudah karena mereka bertiga terbiasa bekerja masing-masing. Sehingga menimbulkan konflik.

Solo yang mantan seorang koruptor dan pencuri kelas kakap yang akhirnya bekerja di CIA, harus berdamai dengan mata-mata Rusia Illya untuk mencari ayah dari Gaby Teller, seorang ilmuwan yang mengerjakan proyek nuklir tersebut. Dengan menyamar dan pergi ke Roma Italia, mereka bertiga mencoba masuk ke sebuah pulau tempat pengerjaan nuklir.

uncle

Akan tetapi ternyata Gaby mengkhianati Solo dan Illya, sampai akhirnya Solo tertangkap dan disiksa dengan mesin penyiksa yang dipakai saat perang dunia ke II. Dengan kecerdasan dan kemampuan bela diri mereka, mereka berdua berhasil keluar dan selamat. Namun ternyata belum berakhir, karena nuklir sudah siap untuk diluncurkan. Mereka harus menggagalkan upaya pemboman dan mengambil disket yang digunakan sebagai penyimpan data file pembuatan bom nuklir.

Tanpa diduga ternyata mereka berdua menyimpan misi masing-masing dari perintah negara mereka. Yaitu membunuh agen lawannya apabila terjadi perebutan disket. Karena dengan menguasai disket tersebut, berarti mereka akan menjadi negara terkuat karena memiliki formula pembuatan bom nuklir. Selama jalannya misi tersebut Solo dan Illyas serta Gaby menjadi tim yang sangat kompak. Akan tetapi terganjal dengan misi akhir yaitu saling membunuh.

REVIEW

Saya sudah cukup bosan dengan film action belakangan ini, tapi engga dengan film UNCLE. Mungkin karena teknologinya yang back date akan tetapi efeknya bisa dahsyat banget serupa teknologi terkini, bikin filmnya memiliki daya tarik sendiri. Filmnya sendiri termasuk kategori action komedi, yang komedi sarkasnya cerdas banget. Yang kalau ngga nonton dan memahami secara serius, dijamin bengong deh wekekeke.

Yang paling disuka sebenernya fesyennya sih hehehe. Dengan setting tahun 60an, rasanya fesyen saat itu udah maju banget ya. Entah kenapa sangat terlihat classy dan elegan banget terutama fesyen cewe-cewenya. Tapi ngga kalah juga para cowonya yang stylish banget. Enak deh dilihatnya *loh *lost fokus.

Filmnya sih agak mengingatkan sama Catch Me If You Can-nya Leonardo, hampir sama modelnya tapi lebih kompleks dan lebih seru karena menyangkut urusan negara kan. Tadinya agak skeptis dengan filmnya yang saya kira biasa aja, ngga taunya seru euy. Menghibur banget deh selama hampir dua jam 😀