Setelah sekian lama blog ini ngga ada update yang berarti, akhirnya di penghujung bulan September 2020, saya memutuskan untuk hiatus dulu. Tentu saja sifatnya hanya sementara, blog yang sudah mendarah daging ngga akan bisa lepas dari core hidup saya sehari-hari. Tapi kenapa sih akhirnya saya memutuskan rehat dulu sampai 2021?

Ada banyak sederet alasan yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran saya, yang membuat ngeblog tidak semenyenangkan dulu lagi. Alih-alih melegakan pikiran, belakangan pikiran saya blank. Saya jadi tidak bisa menjelaskan secara runut dan tidak memiliki tenaga lagi untuk menulis.

Tulisan ini pun pada akhirnya saya beranikan nulis supaya ngga pada kaget, kalo tiba-tiba saya ngilang wekekek. Ngga kok ngga kenapa kenapa tapi memang aktivitas sedang padat-padatnya karena situasi yang tidak biasa ini. Apalagi kalau bukan karena Covid-19, yang kali ini tidak bisa dipandang enteng dan sepertinya akan berada pada situasi ketidakpastian yang panjang.

Traffic Blog Yang Menurun Drastis

Awal pandemi, yang pertama kali terkena dampak (sampai sekarang) adalah dunia travel. Mulai dari pembatalan penerbangan sampai akhirnya close border dan melarang tamu asing masuk ke sebuah negara. Apalah saya yang cuman nulis travel dibandingkan para startup travel yang berjibaku menyelamatkan perusahaan, sampai akhirnya tidak mampu bertahan.

Terakhir saya ingin bepergian keluar negeri adalah ke Eropa di Bulan April. Saat bulan Maret, saya sudah siap-siap mengajukan Visa Schengen dan sudah sampai di VFS prosesnya. Bahkan saya sudah menyiapkan postingan Pengajuan Visa Schengen.

Sampai awal Maret, semua masih terlihat normal. Walaupun berita Covid-19 di Eropa sudah meningkat, tapi pengajuan masih berjalan dan orang-orang juga mengaku tidak takut dengan virus Corona di Eropa. Wuih saya jadi santai juga kan.

Ngga selang berapa lama, berita Corona di Eropa makin menjadi. Kasus sudah mencapai ratusan ribu dengan tingkat kematian yang tinggi. Alhasil, paspor saya tertahan sampai 2 minggu. Udahlah pasrah dan takut juga kalo kenapa-kenapa, jadinya pas ngambil paspor pun ngga ngarep yang gimana-gimana. Ya jadinya sudah dipastikan, klo visa saya ditolak karena Belanda (tempat negara saya apply) tidak menerima turis asing.

Sedih? Engga sih, at that time, saya bahkan ngga ngeh apa yang bakal dihadapi ke depannya. Jadinya ya santai aja, apalagi memang tiket perjalanan saya tahun ini hanya ke India dan Eropa. India sendiri saya sudah pergi di Januari dan April memang rencana ke Eropa. Jadi beneran biasa aja.

Baru setelah banyak sekali kejadian yang berkaitan dengan travel, baru mulai berasa terutama di traffic blog. Saya tau sih ini ngga penting amat, tapi ternyata, artikel saya yang memang mendatangkan traffic dari travel, sangat memengaruhi performance blog.

Tidak ada orang-orang yang bepergian di masa pandemi ini. Seketika kesenangan saya berbagi dan bepergian menjadi momok menakutkan. Apa jadinya kalau kita tidak bisa travelling lagi, entah sampai kapan.

Saya pun jadi tidak bisa menulis lagi karena tidak memiliki pengalaman nyata untuk dibagi. Bahkan sekedar menulis hal-hal travel yang lalu saja tidak punya nyali, karena saya tahu tidak ada yang membacanya.

Bayang-bayang Bahaya Virus Covid-19

Ketika di awal-awal PSSB dengan kasus harian masih di bawah 1000, kita masih santai dan menikmati di rumah aja. Walau tentunya bosan, tapi saya sendiri juga banyak sekali melakukan hal yang ingin saya lakukan. Seperti handlettering, punya blog baru untuk sharing bisnis, sampai bermain tanaman. Semua menyenangkan.

Sampai akhirnya, ada PSSB new normal dan kasus semakin meninggi. Saat ini kita bahkan sedang mendekati 5000 kasus harian terinfeksi, saya makin was-was. Mungkin di awal-awal masih berasa parno dan kadang berasa psikosomatis.

Lalu kemudian, semakin banyak saya membaca lintas berita cepat dan banyaknya thread awareness Covid-19 (yang lebih banyak kisah sedih) membuat saya makin was-was.

Saya sendiri adalah orang dengan asma yang lumayan cukup akut. Saya ngga bisa di ruangan dengan debu, ngga bisa menghirup udara kotor, dan terkadang bisa sesak napas karena alergi obat. Sedemikian parah sampai membayangkan jika saya terinfeksi, mungkin tidak akan bertahan lama.

Keadaan makin diperparah dengan kondisi Happy Hypoxia yang belakangan menjadi momok menakutkan. Tanpa gejala, tidak sesak napas, tidak batuk, hanya saturasi oksigen yang rendah serendah-rendahnya. Bahkan sampai ajal menjemput.

New normal yang artinya harus kembali bekerja di kantor terkadang menjadi hal yang berat buat saya, apalagi naiknya cluster kantor yang cukup signifikan setelah new normal. Duh rasanya beneran stress dan lelah.

Apalagi inner circle yang terkena Covid-19 radiusnya sudah semakin pendek. Menurut Pandemictalks, kabarnya 1 dari 150 orang penduduk Jakarta terinfeksi Covid-19. Ngga heran, karena sudah semakin banyak orang di lingkungan saya yang kena. Mulai dari tetangga, teman blogger, sampai pasangan staf saya di kantor.

Tekanan ini rasanya lebih berat, karena tidak adanya strategi penanganan wabah yang masuk akal dan berjalan dengan baik. Ditambah kebodohan orang-orang yang tidak sadar akan kesehatan mereka dan orang sekitarnya. Saya yang melihatnya ikutan stress dan merasa sewaktu-waktu giliran kita yang kena.

Dunia Bisnis Yang Lesu

Hal yang paling terdampak selain sektor travel adalah bisnis secara keseluruhan. Di awal-awal, ketika PSSB diberlakukan dan semua perusahaan mengikuti perintah untuk WFH, semua berjalan lambat. Otomatis perekonomian juga ikut melambat bahkan cenderung memburuk.

Tapi karena kebutuhan ekonomi yang terus terdesak, diberlakukanlah new normal dimana semua beranggapan ini adalah situasi normal hanya saja dengan masker. Well, ketika cluster perkantoran mulai naik kasusnya, sepertinya ini juga salah satu hal yang dikorbankan. Antara ekonomi atau kesehatan. Tinggal pilih salah satu, karena ternyata manajemen negara kita belum secanggih itu untuk memiliki strategi yang baik.

Saya sendiri, semenjak BP Network berubah menjadi Hiip Indonesia (yang merupakan bagian dari Hiip Asia), tentunya mengalami masa-masa berat. Dari sisi CEO, tentunya ada banyak tekanan berat di awal pandemi.

Sementara orang-orang mengira pandemi hanya akan berlangsung selama beberapa minggu, kami dari Global Company tentunya punya insight yang berbeda. Pandemi yang tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia, membawa pengaruh besar untuk perusahaan yang skalanya tidak hanya di Indonesia saja, namun Asia Tenggara.

Ada banyak efisiensi yang harus dilakukan bahkan sebelum orang menyadari sampai kapan ini berakhir. Berat rasanya harus melakukan unpaid leave setengah karyawan dan pemotongan gaji karyawan yang bertahan supaya perusahaan bisa tetap ada, karena pandemi ini sudah pasti tidak akan berakhir dalam sebulan.

Bertahan dengan karyawan yang tersisa setengah dengan load pekerjaan yang luar biasa sepanjang bulan puasa dan lebaran, akhirnya mampu membawa perusahaan bangkit lagi. Kuncinya adalah team work dan cash yang dimiliki benar-benar harus dihitung untuk memperpanjang napas.

Untunglah, ketika plan berjalan dengan baik, semua karyawan bisa kembali normal. Baik dalam hal penggajian dan total pegawai kembali seperti semula yang diperkirakan bisa bertahan sampai akhir tahun. Jumlah proyek yang dikerjakan juga meningkat tajam seiring dengan growth yang dicatat nyaris mencapai 300% dari tahun lalu.

Bisnis mengalami shifting. Di saat orang lebih banyak di rumah dan lebih banyak bermain gadget dengan mengakses media sosial dan game, Influencer Marketing makin mencapai puncaknya. Prediksi saya sendiri, mungkin akan tetap begini sampai tahun depan.

Media konvensional dan media televisi sudah berangsur turun, orang yang mengakses internet meningkat tajam. Karenanya semua bisnis mau tidak mau harus beralih online untuk mendapatkan pelanggan. Di sinilah peran Influencer Marketing menjadi strategi yang bagus untuk pemasaran di masa pandemi.

Saya merasa bersyukur. Apa yang saya mulai dari sebuah blog ini ternyata bisa membuahkan hasil yang cukup signifikan. Bisa menggaji orang orang terbaik yang memiliki keluarga, bertahan dalam krisis, dan mempertahan seluruh karyawan tentunya tidak mudah.

Apalagi, jalan masih panjang. Baru mulai PSSB jilid kedua, kasus mulai meningkat tajam, ketersediaan kapasitas rumah sakit menurun, dan akhir tahun terasa masih gelap di awang-awang.

Maka dari itu, saya memutuskan sejenak hiatus dari dunia perbloggingan paling tidak sampai akhir tahun. Mencoba mewaraskan diri, bertahan dari tekanan demi tekanan, berpikir strategi terbaik untuk bertahan dari masa-masa kelam.

Semoga masih bisa bertahan dalam situasi terberat tahun ini dan mendapati tahun 2021 cerah kembali ke sedia kala. Oia, saya mungkin masih aktif di Instagram untuk sekedar mencurahkan hobi dan pengalihan yang menyenangkan.

Jadi, sampai bertemu lagi di 2021 ^^.

5 1 vote
Article Rating