Sudah sejak lama saya mengetahui kalau saya memiliki alergi. Alergi terhadap obat, makanan, debu, dingin, tungau, dan berbagai macam jenis hal yang membuat saya bereaksi terhadap pemicunya. Sudah melakukan tes alergi dan dinyatakan positif menjadikan saya lebih berhati-hati terhadap apapun. Tapi kemudian saya sadar, alergi yang saya miliki pasti menurun ke anak-anak. Kekhawatiran ini juga dialami oleh suami saya, yang untungnya tidak menjadikan beliau untuk tidak jadi menikah dengan saya hahaha.

Dan tentu saja, karena saya memiliki alergi maka anak saya akan berisiko. Anak pertama Aliya, alhamdulillah masih aman. Tapi anak kedua, Rafi, mengalami alergi yang cukup bikin pening kalau terkena es, dingin, ataupun debu. Untungnya tidak memiliki alergi terhadap makanan, sehingga dapat dengan mulus melewati 1000 hari pertamanya. Menurut informasi yang saya dapatkan di acara #NutriTalk, setelah melewati usia 5 tahun, kadar alergi pada anak berkurang bahkan hilang. Akan tetapi tetap yang perlu diperhatikan dan diketahui adalah masa pertumbuhan yang bisa terhambat karena alergi.

Alergi, Penghambat Tumbuh Kembang Anak

dokterDalam sesi talkshow Sari Husada #NutriTalk yang saya hadiri pada hari Kamis, 24 Maret lalu di Hotel Double Tree Cikini, para nara sumber ahli berbagi ilmu pengetahuan penting. Temanya adalah tentang “Gizi di Awal Kehidupan: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi”. Dikhawatirkan, apabila anak mengalami alergi terhadap zat yang mengandung gizi, maka pertumbuhannya tidak akan optimal. Kan sayang sekali, padahal 1000 hari pertama itu adalah yang paling bagus untuk melakukan pertambahan gizi melalui berbagai macam bahan makanan. DR. Dr. Rini Sekartini, Sp.A(K) yang merupakan Ketua IDAI dan konsultan tumbuh kembang anak RSCM, menjelaskan beberapa poin penting tentang tumbuh kembang anak, diantaranya:

  • Perkembangan anak melibatkan otak dan susunan saraf pusat. Dan 1000 hari pertama perkembangan anak sangat penting. Kebutuhan nutrisi yang lengkap sangat penting untuk tumbuh kembangnya.
  • Anak harus dipantau tumbuh kembangnya sejak bayi. Mulai dari perkembangan berat badan, aktivitas, sampai asupan makanannya.
  • Anak yang menderita alergi, akan mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini disebabkan oleh penyebab alergi yang pada tahun pertama seperti susu sapi, telur, kacang-kacangan, makanan laut (udang, kepiting, udang karang), gandum, dan ikan, dilaporkan menjadi alergen. Padahal alergen tersebut penting dalam masa pertumbuhan.
  • 1 dari 25 anak mengalami alergi protein susu sapi. Padahal pada awal kehidupan protein susu sapi menjadi nutrisi penting karena berupa MPASI, makanan seimbang, maupun ASI dari ibu yang mengkonsumsi nutrisi yang mengandung protein susu sapi.
  • Gangguan pertumbuhan, disebabkan oleh orang tua yang memilah makanan yang penting bagi pertumbuhannya. Kecenderungannya adalah mengeliminasi makanan yang menjadi penyebab alergi, tidak mencari bahan pengganti gizi yang hilang, dan makanan yang mengandung alergi menjadi sebuah pantangan yang harus dihindari.
  • Mengeliminasi makanan ini ternyata memberikan dampak kesehatan bagi anak. Anak menjadi picky eater, kekurangan protein, diare, dan suka gumoh.
  • Dampak alergi pada anak memberikan pengaruh yang besar, karena dapat menyebabkan anak memiliki gangguan pernapasan seperti asma, batuk, bersin. Selain itu juga akan terjadi gangguan tidur dan gangguan perilakunya.
  • Anak-anak dengan risiko alergi protein susu sapi, akan memberikan gejala yang bermacam-macam. Seperti gejala pada kulit (bentol merah gatal dan kulit kering), gejala pada saluran napas (bersin, hidung tersumbat, ingus encer, batuk berulang, gejala asma, napas berbunyi), dan gejala pada saluran cerna (muntah, kolik, diare, dan BAB disertai tinja berdarah).
  • Diperlukan intervensi nutrisi bagi anak-anak risiko alergi protein susu sapi agar tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya dan anak-anak tetap dapat mendapatkan gizi yang tepat pada 1000 hari pertamanya.

Risiko Alergi Pada Anak

dokter1Untuk mengenal risiko alergi pada anak dan bagaimana melakukan intervensi pada saat pertumbuhannya, hadir DR.dr.Budi Setiabudiawan,Sp.A (K),M.Kes seorang Ahli Alergi. Beliau menjelaskan dengan detail apa itu alergi pada anak terutama anak yang berisiko alergi protein susu sapi. Kenapa? Karena ternyata 1 dari 12 anak memiliki risiko alergi protein susu sapi. Walaupun orang tuanya tidak memiliki alergi, anak tetap akan berisiko sebesar 5%.

Risiko alergi pada anak akan semakin tinggi apabila terdapat riwayat alergi pada keluarga. Keluarga yang dimaksud adalah ibu, ayah, dan saudara kandung saja. Jadi bukan dari nenek, kakek, dan keluarga yang tidak berhubungan langsung. Persentasenya mencapai bisa 80% persen loh. Bahkan kalau kedua orang tua juga tidak memiliki riwayat alergi, tetap ada kemungkinan risiko 5%.

Berdasarkan tabel di bawah ini, kemungkinan anak berisiko alergi sangat berpengaruh dengan riwayat alergi orang tuanya. Kalau kondisinya seperti saya, ibu dengan riwayat alergi dan ayah tidak, kemudian ada saudara kandung, maka anak saya akan berisiko alergi sebesar 25-30%. Bagaimana cara menghitung risikonya yang akan dimiliki oleh anak? Ada caranya ternyata.

alergi

Yaitu dengan memberikan nilai sesuai kondisi yang dimiliki oleh ayah, ibu, dan juga saudara kandung. Setiap anggota keluarga terdekat diidentifikasi apakah memiliki riwayat alergi. Kalau dalam kasus saya, saya ingin mengidentifikasi Rafi. Saya memberikan nilai pada setiap kondisi keluarga. Saya mendapatkan nilai 2 (dinyatakan riwayat alergi oleh tenaga kesehatan) ditambah ayah nilai 0 (tidak ditemukan riwayat alergi). Kemudian saudara kandung (Aliya) diberikan nilai 1. Maka total nilainya adalah 3. Maka Rafi memiliki tingkat risiko sedang yaitu 20 – 40%. Cukup tinggi ya 🙁 Nah, walaupun memiliki kadar risiko alergi yang cukup besar, kita sebagai orang tua harus melakukan pencegahan. Namun tentunya jangan sampai menghambat pertumbuhan anak.

Hitung risiko alergi
Hitung risiko alergi

Apabila anak mengalami alergi protein susu sapi, menurut dr. Budi, beliau menjelaskan bahwa dapat diintervensi dengan pemberian nutrisi yang terhidrolisasi persial. Protein terhidrolisis parsial adalah sebuah hasil dari teknologi, yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein. Sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak. Dengan adanya teknologi protein terhidrolisis parsial, tentunya anak tidak akan kehilangan nutrisi penting dan terbaik bagi tumbuh kembangnya.

Dan ternyata ASI selama masa 0-6 bulan dapat menjadi induksi toleransi dari alerginya tersebut. Baru kemudian apabila pada masa MPASI ditemukan alergi terhadap protein susu sapi, dapat digunakan susu dengan nutrisi terhidrolisis parsial. Selain itu juga diperlukan pencegahan agar reaksinya tidak berulang dan bertambah berat serta tidak terbawa sampai dewasa.

sari-husada

Nah, jadi kalau bunda atau ayah memiliki alergi protein susu sapi, jangan khawatir kalau anaknya akan kekurangan nutrisi dan menghambat tumbuh kembangnya. Karena IDAI memberikan rekomendasinya, bahwa anak dengan alergi protein susu sapi dapat diintervensi nutrisinya dengan pemberian nutrisi yang terhidrolisis parsial. Sehingga walaupun anak memiliki risiko yang cukup besar, kita sudah tau bagaimana menanganinya. Oia, untuk yang sedang merencanakan pernikahan, jangan juga tidak jadi menikah hanya karena salah satu pasangannya memiliki riwayat alergi ya hehehe.

0 0 vote
Article Rating