Tiga hari dua malam memang rasanya ngga cukup untuk menemukan diri sendiri. Eh, saya bilang menemukan? wekekek apa memang sampai saat ini kita bahkan ngga paham, siapa kita, dan apa maunya? Saya mungkin iya. Sejak kecil, semua pasti merasakan kalau kita memang sudah sedemikian rupa menjadi seseorang yang diinginkan oleh orang tua. Iya tentunya orang tua akan selalu mengarahkan ke jalan yang benar. Tapi terkadang lupa, ingin jadi apa, punya cita-cita apa, punya keinginan apa, dan menjadi diri sendiri akhirnya adalah hal yang sulit.

Minggu lalu itu, saya beruntung bisa ikutan acara dari Remedi Indonesia untuk retreat. Iya, selama tiga hari menjalani pengasingan huhuhu. Ngga ada koneksi dan beneran berada di gunung daerah Sentul. Betul-betul menyatu dengan alam dan belajar. Ngga hanya belajar tapi juga bersenang-senang hehehe.

remedi-indonesia

Pernah ngerasa ngga, saat sholat itu pikiran ke mana-mana. Bahkan yang paling parah adalah lupa rakaat. Saya sering ternyata. Saking banyaknya pikiran dan kesibukan akhirnya sholat hanya menjadi semacam penggugur kewajiban. Padahal seharusnya itu adalah jalur komunikasi kita kepada yang di atas. Di mana menjadi salah satu kegiatan dengan penuh kesadaran dan fokus sepenuhnya. Itulah kenapa kita perlu mengenal tentang Being Present. Hadir di sini, saat ini juga.

Tentang Remedi Indonesia

Jadi ceritanya saat saya berkunjung ke Ke:kun Jalan Bangka Raya 99A Mampang, saya bingung juga. Apa sebetulnya Remedi Indonesia ini. Dan ternyata Remedi Indonesia adalah sebuah komunitas untuk sharing Universal Wisdom. Sebuah kebijaksanaan yang telah diyakini oleh masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Baik dari kebijaksanaan Jawa, Sunda, dan kebijaksanaan yang dipakai dunia.

Tanpa kita sadari, sebetulnya kita sudah menjalani setiap kebijaksaan yang diyakini dari leluhur. Tapi, terkadang masih banyak missing link, yang seharusnya dapat kita gunakan dalam pedoman kehidupan sehari-hari. Tentu saja tujuannya adalah untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang lebih bahagia, yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, serta menyadari bahwa kita harus selalu hidup dengan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Setiap selasa malam, Remedi membuka kelas yang terbuka untuk siapa saja. Kita bisa datang dan saling berbagi tentang apa saja hal-hal yang membuat perasaan tidak enak. Nanti bakal diajari bagaimana mengatasi, bahkan melepaskan energi negatif yang ada di diri kita dengan berbagai macam metode. Nah karena saya cukup beruntung buat ikutan belajar tentang Universal Wisdom, saya bisa paham berbagai macam cara untuk menjadikan hidup kita penuh syukur dan menjalani hari-hari dengan penuh ketenangan.

The Zen of Well Being (5R)

Pada dasarnya, manusia hanya menginginkan hidup aman, tenteram, bahagia, sehat, dan sejahtera *jiah bahasanya. Tapi kenyataannya, hidup saat ini lebih berat dan ada banyak hal. Terutama singgungan dengan orang lain, keadaan, dan hal-hal yang membuat hidup tidak dapat dinikmati seutuhnya. Kita menjadi lebih emosi dalam menghadapi suatu masalah, menahan dalam hati, sampai mengalihkan ke hal lain, yang pada akhirnya tidak mampu mengatasi permasalahan tersebut. Makanya terjadi hal yang berulang (repeat pattern) karena ketidakmampuan melepaskan diri untuk mengatasi suatu masalah.

Well being atau kesejahteraan hidup di dalam hidup dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana kita merasa puas akan kondisi yang sudah ada. Kondisi ini akan selalu berkaitan dengan kesehatan jasmani rohani yang baik, kebahagiaan secara menyeluruh, kemakmuran yang dimiliki, dan juga kesejahteraan. Toh ini kan ya yang menjadi tujuan semua orang hidup. Tapi gimana sih cara meraihnya?

Cara untuk menjadi seseorang yang well being, yang menjadi tujuan hidup setiap manusia saat hidup adalah dengan melakukan 5 hal yang dilakukan secara berulang, terus menerus. Yang disingkat menjadi 5R, yaitu Re-framing, Releasing, Response-able, Rediscover, dan Relaxing. Kelima hal ini dilakukan dengan beberapa teknik berbeda yang mengatasi setiap permasalahan yang muncul. Jadi kita akan terlepas dari hal Reactive (emosi), Redirect (mengalihkan diri dari permasalahan), dan Repress (menahan emosi).

Kalau kita pikir, kita tidak memiliki pemasalahan yang berarti dalam hidup, merasa semua baik-baik saja, merasa telah sempurna menjalani hidup, coba pikir lagi?

Manusia memang tidak pernah lepas dari masalah. Kadang merasa kurang bersyukur, merasa hidup tidak adil, dan tidak merasa ikhlas menjalani hidup saking banyaknya hal yang terjadi. Bahkan karena traumatik yang berkepanjangan, hidup jadi terasa berat. Dan karena tidak bisa melepaskan traumatik, maka setiap hal yang kita takuti terjadi berulang secara terus menerus. Traumatik dapat berarti hal yang kecil sekalipun sampai hal besar yang membuat kita mendengar sesuatu, melakukan sesuatu menjadi ketakutan. Hal ini yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, sehingga membatasi tingkat kebahagiaan yang kita miliki.

Setiap permasalahan yang muncul hadapi dengan 5R. Intinya adalah melepaskan energi negatif yang ada dan muncul dalam diri kita akibat orang lain. Energi ini, tersimpan dari hal-hal yang kita alami di waktu kecil sampai saat ini. Yang mempengaruhi kehidupan dari hal terkecil sampai hal besar. Yang membatasi kebahagiaan, ketulusan, kebaikan, dan hal positif lainnya. Dengan mengeluarkan energi negatif ini, kita mampu memberikan afirmasi positif untuk sepenuhnya lepas dari hal-hal yang membebani pikiran. Tahapannya gimana?

Yang pertama adalah Rediscover artinya mengenali kembali diri sendiri. Mulai dari harapan terhadap kehidupan yang terdiri dari Spiritual, Relationship, Legacy, Adventure, Business, Self Development, Health, dan Prosperity. Setiap aspek ini, kita isi dengan harapan dan keinginan secara spesifik dan apa yang menjadi hambatan atas keinginan tersebut yang tidak tercapai. Nah hambatan itulah yang biasanya menjadi masalah. Tanpa sadar, masalahnya itu memiliki akar yang menjadi titik awal hal-hal negatif yang terjadi di sekeliling kita.

Yang kedua adalah Reframing. Yaitu dengan melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Seperti halnya menyadari bahwa memang yang dihadapi nyata dan sadar bahwa kita ada di sini untuk menghadapinya. Jadi tidak lari dari kenyataan atau malah mengalihkan kepada hal lain. Itulah pentingnya being present, di mana kita sadar bahwa ada sesuatu hal yang terjadi dan merasakannya secara sadar.

Kemudian setelah kita secara sadar akan masalah yang ada, saatnya untuk Releasing atau melepaskan. Membuat diri merasakan ikhlas dan menerima segala sesuatu yang telah terjadi. Teknik releasing ini juga khusus. Ada beberapa cara. Yang diajarkan pada waktu retreat ini adalah teknik EFT (Emotional Freedom Technique) dan Jabarish. EFT adalah teknik releasing dengan akupresur pada psikologi dan juga akupuntur tanpa jarum.

Sedangkan Jabbarish adalah teknik releasing dengan cara bersuara dan bercerita dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain bahkan diri sendiri. Efek releasing ini akan memberikan perasaan lega dan ikhlas karena sambil memberikan afirmasi untuk mengeluarkan segala energi negatif yang ada.

Selain itu juga ada Kundalini Yoga. Teknik yoga untuk mengembangkan kekuatan, kesadaran, dan karakter. Ada berbagai macam manfaat Kundalini Yoga terutama untuk menghilangkan stres fisik dan mental yang terkait dengan sejumlah peristiwa kehidupan.

Kemudian setelah itu adalah Response-able, bagaimana tindakan kita setelahnya. Apabila telah keluar semua hal-hal negatif yang mengganggu itu, maka masukkan lagi afirmasi positif berupa keinginan, harapan, yang lebih baik atas semua permasalahan yang terjadi. Sehingga, di masa yang akan datang tidak akan terjadi kembali sebagai repeat pattern.

Dan yang terakhir adalah dengan Relaxing. Setelah memahami semua yang terjadi, melepaskan secara ikhlas, dan menerima kenyataan yang ada, step yang terakhir adalah dengan melakukan relaksasi. Caranya pun bermacam-macam. Yaitu dengan mindfulness meditation, melakukan pernapasan sebagai sirkulasi udara dari luar ke dalam tubuh, sampai Body Awareness Meditation.

Best Part of This Program

Did I mention that I’m having a lot of fun? Kayaknya saya lupa bilang, kalau tiga hari dua malam itu saya bersenang-senang di sana. Bahasan The Zen of Well Being jadi terasa mudah dan tidak rumit saat semua dipraktekkan. Satu demi satu 5 hal tersebut dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Apalagi suasana pegunungan yang tenang, udara yang sejuk ikut mendukung di KM Zero Sentul yang asri banget.

Jadi dari hari pertama, suasananya santai dan kekeluargaan. Mas Ferry Fibriandani (Awareness Transformational Facilitator) memberikan materi dengan contoh kejadian di dirinya sendiri. Yang mudah juga diaplikasikan di kehidupan kita. Kaya misalnya, bagaimana repeat pattern terjadi pada beliau dan pada saat EFT (releasing) menemukan akar masalah yang ternyata dicari, dari kejadian sekarang sampai ditarik ke belakang saat kecil. Semuanya bisa diatasi dengan EFT itu dan repeat patternnya bisa berhenti.

Kalo repeat pattern saya apa ya? hmmm kayaknya punya bokap yang pindah pindah kerja karena tugas pemerintah, trus sekarang punya suami yang sama juga pindah-pindahnya. Dogh, apa karena nama belakang saya mirantaura ya yang memang dibuat ibu saya dari arti merantau. Idunno. Tapi memang nama sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita.

Kemudian praktek Kundalini Yoga yang bikin ngos-ngosan dan bener-bener bisa mendapatkan energi baru yang diajarkan oleh Mba Julia Zuhardiman. Praktek lainnya adalah Qi Circulation yang dengan Sitali Pranayam yang memberikan kekuatan dan vitalitas. Saya sampai bisa merasakan udara segar yang masuk ke perut. Praktek lainnya adalah Nobel Silence, di mana kita hanya diam dan mengamati keadaan sekitar. Tanpa perlu bertanya, kenapa, ada apa, bagaimana, dan hanya menerima serta menikmati hal yang terjadi di sekitar kita.

Setiap harinya bikin saya excited. Selalu melihat rundown, besok apa lagi ya, belajar apa lagi ya. Dan saat malam yang paling saya sukai, karena ada Body Awareness Meditation dan Sound healing yang merupakan bagian dari relaxing dan rediscovery. Belum lagi materi tentang Hasta Brata yang menarik banget. Karena diambil dari Kebijaksanaa Jawa dan Sunda. Yang keluarganya Jawa banget kaya saya gini, sudah ngga asing banget tapi selalu tertarik mencari tau lebih lanjut.

Hasta Brata : Eight Life Path in The Spiritual Journey to Alignment

Teknik lainnya yang seru banget saat mempelajari adalah Dyad Technique yang membawa ke alam bawah sadar, untuk mengenal diri kita sebenarnya. Jadi teknik ini, paling cocok untuk digunakan di kehidupan saat ini, di mana dua orang saling menatap, yang satu bercerita dan yang satu lagi hanya diam saja. Iya, kebanyakan diantara kita sudah saling menjudge satu sama lain apabila mendengarkan seseorang curhat. Jadi, penting kalau sekarang memulai untuk tidak memberikan komentar apapun atas apa yang sedang dihadapi orang tersebut.

Yang paling bikin geger lagi itu sepertinya pas lagi praktek releasing teknik Jabarish yang difasilitatori oleh Siti Banu Intan, di mana setiap orang bersuara dan menyuarakan keluh kesah tapi tidak dengan bahasa Indonesia atau bahasa apapun. Jadi seperti mengguman dan mengeluarkan berbagai macam suara. Yang lucu itu kan, karena dilakukan di siang hari dengan kondisi resort sudah ramai dan padat, jadi entahlah apa pendapat orang orang hahaha.

Dan ending dari semuanya itu, yang mendebarkan adalah pada saat sound healing, dilakukan meditasi kehendak. Di mana semua kehendak kita dibayangkan dan berdoa untuk dikabulkan. Kemudian mencatat keinginan di sebuah catatan kecil dan ditempel kemudian diterbangkan melalui lampion. Waahh, sumpah itu seru banget.

Terus ternyata ngga berhenti sampai situ saja. Keesokan paginya, dilakukan nobel silence sambil berjalan ke arah air terjun. Di sana lagi lagi melakukan meditasi kehendak yang buat saya kerasa banget sakralnya. Bayangin dong, di air terjun yang biasanya cuma menikmati dari jauh, tapi ini mendekat, merasakan setiap butiran airnya, memahami bahwa Alloh itu ada dan bisa merasakannya. Wow, saya bahkan tidak bisa membayangkan lagi apa yang terjadi saat itu.

Bagian penutupan diakhiri dengan materi living with joy oleh Mba Dea Soelistyo, yang banyak mengajarkan tentang bagaimana bersyukur dalam setiap bagian hidup yang dilewati. Mudahnya dengan menulis hal-hal apa saja yang menjadi berkah di hari ini, untuk kemudian ternyata, dengan bersyukur hal kecil, kita akan mendapatkan hal yang lebih besar. Selalu berpikir positif dan mengeluarkan hal hal negatif yang akan mempengaruhi.

remedi-ind
photo by @tikabanget
remedi2
photo by @tikabanget

Tiga hari itu, benar-benar menjadi pengalaman berharga dan menyenangkan. Menemukan diri sendiri lagi, memahami arti hidup, dan melepaskan hal-hal negatif yang selalu ada di sekitar kita. Tertarik buat ikutan?

Remedi Indonesia

Ke:kun Jalan Bangka Raya 99A Mampang Jakarta

Facebook : https://www.facebook.com/RemediIndonesia/