Sebetulnya, ini adalah cerita yang lebih panjang yang cerita sebenernya hehehe. Kalau sebelumnya, saya cerita malah ngalur ngidul di blog yang ini, karena pada saat mau menulis versi ini, saya jadi ingat, bagaimana beratnya memulai bisnis ini. Seandainya saja dulu saya mendengarkan ocehan nyinyir mereka semua, saya ngga tau akan sampai di mana saya saat ini. Bahkan tudingan, nyinyiran, caci maki, dianggap playing victim itu ngga hanya dari orang yang tidak mengenal saya secara personal, ada juga yang mengenal saya tapi entahlah, mungkin tidak paham dengan maksud saya.

Jadi, setelah saya merasakan ada yang berubah dalam hidup saya terutama karir drastis yang berubah karena ngeblog, saya memutuskan ingin mencatatnya dan semoga saja bisa menjadi catatan yang bermanfaat. Bagaimana si blog yang berfungsi sebagai media akan mendukung segala jenis usaha yang kita lakukan. Dalam hal ini, bisa berfungsi untuk apa saja. Baik menyalurkan ide secara tulisan, langsung implementasi ide, validasi ide di media sosial, sampai eksekusi serta berkembang secara cepat.

Karir saya yang tadinya kuli (iya beneran saya kuli karena kerja di lapangan sebagai enjinir) tiba-tiba bisa berubah drastis. Awalnya saya cuma punya satu tekad aja, pengen kerja di rumah. Bahkan ide ini sebetulnya sudah ada di jaman kuliah, dicetuskan oleh sahabat saya yang khusus ngambil bidang transportasi. Waktu itu alasannya adalah, β€œbidang ini katanya bisa dikerjakan di rumah zien” (panggilan beken saya waktu itu). Wah, idenya keren nih, bisa kerja di rumah. Yang saya ngga kepikiran sama sekali.

Lama bekerja dan berkeluarga, saya lupa dengan ide kerja di rumah itu. Walaupun sebetulnya sudah ada ide bisnis internet marketing dengan produk MLM bertebaran dimana-mana. Bahkan saya juga belajar khusus beternak blog Adsense dengan sepupu saya yang juga punya cita-cita kerja di rumah. Yang akhirnya, keinginan sepupu saya kandas dan tetap meneruskan karir menjadi Manager IT di salah satu asuransi nasional.

Too good to be true lah kerja di rumah ini. Karena targetnya adalah bisa menggantikan gaji pekerjaan di kantor kan ya. Let say, enjinir seperti saya dan terakhir berada di posisi asisten manager project tentunya tidak mudah meninggalkan penghasilan yang lumayan, apalagi punya anak dua. Okelah suami bekerja di BUMN, tapi juga saat itu masih staf dan berada di luar pulau Jawa. Ngga punya penghasilan pasti akan memberatkan perekonomian yang udah masuk zona nyaman.

Ya sudah, apa yang saya lakukan waktu itu? Saya ngeblog!

It’s Not About Niche, It’s About Your Competency

Saya kembali ngeblog, start di tahun 2012. Memulai dari apa yang saya suka, yang menjadi passion saya. Saya suka ngeblog sudah sedari dulu kala. Tahun 2005, saat masih menggunakan Telkomnet Instan dengan kecepatan 256 kbps hahaha. Itu sudah sangat lumayan dan sudah hepi. Up and down, gonta ganti blog dengan tulisan ngga jelas. Walaupun saya waktu itu kerja, saya tetap rutin update blog tapi ngga jelas. Pulang kuliah master malam-malam, saya masih update blog keseharian. Nulis apa aja sekedarnya. Saya bahkan ngga tau kalau jaman itu dunia blogging sudah cukup menggeliat.

Komunitas blogger sudah banyak yang muncul, nama nama blogger yang keren juga sudah ada. Bahkan platform untuk monetize lokal juga sudah tersedia. Tapi lagi-lagi, saya kuper. Ngga bisa bergaul dan ngga tau mau ngapain dengan si blog ini. Berpikir untuk monetize dan kerja di rumah kok kayanya ngga mungkin. Apalagi yang ngeheits waktu itu adalah Adsense dan sorry to say, I don’t like how that is work specially for Indonesian Blogger. Sesuatu yang ngga bisa long lasting dan harus selalu “kucing-kucingan” dengan algorithma bahkan sampai saat ini. Bukan hal yang saya banget deh kayaknya. Jadi ya cuma dibuat gitu aja.

Facebook, Twitter, Instagram, datang menyerang, blog saya lupakan. Apalagi ditambah datangnya dua bayi yang kembar tapi ngga lahir barengan alias sundulan hahaha. Saya direpotkan dengan kehadiran mereka berdua dan sibuk kerja rodi lagi. Tapi apa sih yang akhirnya membuat saya kembali? Yang bikin saya percaya kalau blogging ini adalah sesuatu yang baik kalau dikelola dengan baik juga. Sesuatu yang embuh apa, tapi kok kayaknya menyenangkan karena ini adalah hal yang paling saya sukai. Teknologi dan bebas menulis apa aja.

Saya percaya, dunia digital akan berkembang dengan sangat cepat. Perubahan sederhana, wartel yang hilang, warnet yang tutup, harga laptop semakin murah, internet semakin banyak pilihan, harga paket dan kecepatan yang makin lumayan, makin lama era digital akan menggantikan era konvensional. Tinggal tunggu waktu saja, pikir saya waktu itu. Saya menyambutnya dengan mulai ngeblog tanpa tau apa yang harus saya lakukan nanti.

Yang saya lakukan pertama kali adalah mencari inspirasi. Seperti apa sih blog yang bagus itu. Kebanyakan blog yang bisa survive sebagai personal yang menjual branding sebagai dirinya sendiri adalah blog karya luar. Blog dengan kualitas bagus dengan segambreng fitur dan bermacam-macam ide tulisan yang bisa digali berdasarkan kemampuan orang tersebut. Iya, di saat kita masih berkutat mau nulis soal apa, tentang apa, tema apa, yang akrab dikenal dengan niche blog, blog di luar kebanyakan menuliskan tentang hal yang dikuasai oleh si blogger tersebut.


Yang ditulis adalah soal kompetensi dan keahlian yang dibagikan secara cuma-cuma ataupun berbayar karena memang mata pencahariannya dari situ. Sudah bukan lagi, saya travel blogger, saya food blogger, saya curcol blogger, saya ini itu blogger, dan saya shintaries blogger *loh. Blog adalah media untuk berbagi, mengenalkan diri ke dunia digital, sebuah jembatan untuk hal-hal yang akan membuka kita ke arah yang kita tidak akan pernah tau akan kemana jalannya.

Ada kata-kata yang paling saya suka dari BJ Habibie, kurang lebih begini “kita seperti sedang naik kereta yang melewati terowongan dan kereta ini akan membawa kita sampai terlihat cahaya di ujung terowongan”. Kurang lebihnya, ngeblog juga sama. Blog hanya kereta yang kita tumpangi dan kita ngga tau akan membawa ke arah mana.

Ketika kita fokus untuk membuka semua kompetensi yang kita miliki seutuhnya, maka jalan itulah yang akan terbuka lebar. Punya passion memasak, maka tulislah semua yang kita tau soal memasak di blog. Maka makin lama akan menjadi ahli, banyak belajar dari tulisan sendiri, orang lain akan belajar dari tulisan kita, orang lain akan tau kita memiliki passion di bidang itu, bahkan kita akan dikenali sebagai orang yang expert di bidangnya. Sama halnya dengan passion-passion lainnya.

Makanya dari situlah terbentuk niche blog yang mempermudah orang mengkategorikan blog kita. Tapi kita mendapatkan spesifikasi khusus berdasarkan kompetensi diri kita sendiri. Secara tidak langsung, terciptalah branding personal sekaligus blog yang dikelola. Itulah yang mencirikan kita berbeda dengan blogger yang satu dengan yang lain. Gimana kira-kira?

Fokuslah di satu titik apa yang menjadi kompetensi kita. Feel free untuk berbagi alias jangan pelit dan maksimalkan potensi blog yang ada!

Where Do I Begin?

Berdasarkan sedikit riset sana sini, saya jadi punya gambaran, apa sih yang bakalan saya tulis di blog saya. Saya tentunya merencanakan dengan matang bahkan cukup modal. Well, menggunakan selfhosted untuk blog baru dengan hosting luar dan juga keberanian beli domain nama sendiri yang waktu itu belum tren, sudah cukup menguras kantong. Belum lagi, saya kepengen juga punya template blog keren biar asik dibaca dan nyaman buat pengunjung. Bahkan jaman itu belum ada Mobilegeddon, template saya sudah ready responsive. Emangnya mau nulis apaan sih wekekeke?

Jadi ceritanya, semenjak dulu saya suka banget sama desain blog. Yang warna warni, yang lucu-lucu, yang feminim, yang imut-imut. Ngga jarang, malah menghabiskan waktu desain blog, nulisnya ngga tau kapan. Entah kenapa, klo desainnya bagus, nulisnya juga enak. Yang baca enak, yang punya juga betah. Blog ibaratnya kaya rumah, klo rumahnya dibersihkan, dirapihkan, bikin betah kan ya. Nah, perasaan saya kaya gitu. Paling ngga bisa klo rumah berantakan atau berdebu karena saya alergi debu juga. Makanya sangat tertarik dengan hal yang namanya desain dengan kodenya.

e commerce design #thechocobd

Trus jadi tertarik karena blogger luar ternyata banyak banget yang kasih tutorial desain blog. Yang gratis ada, yang berbayar juga ada. Saking suka dan penasaran, saya ikutan yang berbayar. Ecourse online yang harganya lumayan mahal. Dengan pikiran, saya memang mau bisnis ini. Paling tidak kerja di rumah beneran ada yang dikerjain dan ini real memang bisa dikerjakan. Mulai deh belajar coding Blogspot dan WordPress sampai lumayan khatam. Coba-coba bikin sendiri dan berani mengerjakan orderan.

Ketika itu, saya pararel mengerjakan antara pekerjaan kantor di siang hari dan malam ngoding. Makin lama kan makin mahir dan semua udah di luar kepala. Desain juga lebih mudah karena udah punya pakemnya seperti apa. Sampai akhirnya memberanikan diri resign karena tau, kalau usaha yang dijalankan setengah-setengah, maka hasilnya akan setengah juga kan.

Selain dengan desain blog, saya juga tertarik dengan hal yang berkaitan dengan teknologi. Jadi WordPress related dan hal-hal teknis lainnya saya suka banget. Sebut saja saya geek banget. Daripada hal hal politik, harga beras, gosip artis, saya lebih suka laptop keluaran terbaru, atau smartphone dengan fitur apa yang menarik perhatian. Apalagi software-software yang oke punya. Duh, mendingan saya beli bajunya di tanah abang tapi punya gadget harganya mahal hahaha.

What next? Set target. Untuk siapa postingan ditujukan? Ada dimana mereka ini? Pastikan dengan jelas. Saya sendiri memanfaatkan komunitas yang ada. Waktu itu, komunitas NCC lah yang pertama saya datangi. Setiap hari rabu, mereka punya post promo yang maish related. Dan dari situ saya dapat klien pertama, kedua, dan beberapa yang lumayan. Kemudian juga mulai aktif di Twitter dan mulai rajin promosi. Baru kemudian ikut komunitas blogger yang tentu saja waktu itu baru ada Kumpulan Emak Blogger. Di situlah saya menemukan teman-teman blogger yang bisa saya bagi hasil dari belajar desain dan berkelana di dunia digital.

Tulisan saya di blog awalnya fokus pada tutorial blog desain, dari situ banyak sekali pesanan custom blog desain yang masuk. Nah, dari situ saya sudah bisa mulai menghitung nih, kalau saya resign, saya masih bisa survive dengan menjadi freelancer. Walaupun begitu, saya tetap menulis tulisan sehari-hari yang ternyata juga bisa menjadi tambahan penghasilan. Wah pokoknya blog banyak memberikan rejeki buat saya. Makanya saya sayang-sayang banget hehehe.

Seiring dengan seringnya saya sharing di berbagai komunitas, diajaklah ke sana sini jadi pembicara dan mulai dikenal. Dari situ saya juga kenal dengan Teh Ani Berta dan diajakin bikin workshop Fun Blogging bareng Mba Haya Aliya Zaki juga. Keliling di 5 kota besar dengan total 12 kali “show” cukup bikin saya optimis melihat peluang yang lebih besar jika dikelola dengan baik. Ide-ide mulai bermunculan, ide dasar yang selama ini saya lakukan sendiri, membantu perempuan blogger dari hal kecil-kecil semudah menjawab pertanyaan yang membingungkan soal blogging, membuat saya ingin membantu lebih banyak lagi.

Find Your Right Partner

Setelah beberapa kali memikirkan dan merasa kayaknya saya udah ngga begitu perlu apa-apa lagi (dalam hal materi). Bukan berarti saya banyak duit yang melimpah banget, tapi kebutuhan ngga banyak aja dan gaya hidup juga standar. Jadi yang ada di pikiran adalah gimana caranya bisa bermanfaat bagi komuniti, bagi orang lain, dan membuat sesuatu yang bermanfaat. Saat-saat itulah saya ngobrol dengan Alma dan Mba Rora, lalu ternyata memiliki banyak kesamaan. Hidup bebas sebagai freelancer dan mau susah payah membangun sesuatu *eaaa.

Sama-sama peduli tentang perkembangan digital dan dunia blogger. Kami hanya berpikir bagaimana caranya bisa membantu para perempuan blogger untuk lebih berkembang. Memberikan edukasi, environment digital yang sehat, syukur-syukur memang bisa memberikan manfaat secara ekonomi.

Well, klo bergaul dengan ibu-ibu, kita ngga bisa tutup mata dengan para single mom yang berjuang di ujung sana, ibu ibu bekerja yang menyempatkan waktu ngeblog tapi ngga pengen sia-sia menghabiskan waktu, atau bahkan ibu rumah tangga yang punya passion nulis tapi juga ngga pengen hasil nulisnya cuma jadi gitu aja. Intinya, karena saya tahu bagaimana caranya monetize blog, ya saya mau blogger lain yang juga memiliki keinginan yang sama, bisa mendapatkan kesempatannya.

Sayangnya, jalur ke sana tidak mudah. Ada beberapa parameter utama yang harus dimiliki oleh blog dan bloggernya. Mulai dari attitude, kualitas konten, kualitas blog, traffic, media sosial, dan banyak hal yang menjadikan blognya berkualitas tinggi. Tidak hanya sekedar buat blog, menulis, trus udah. Ngga semudah itu sebetulnya. Makanya saya, Alma, dan Mba Rora, akhirnya waktu itu sepakat membuat sebuah platform yang awalnya memang ditujukan untuk membangun performance blognya para blogger. Jadilah bloggerperempuan.com

Platform sederhana berbasis WordPress, dengan banyak plugin premium, dan ngehost di tempat yang ngga main-main harganya, memang terlihat keseriusan dari awal kami membuat platform ini. Yet, waktu itu kita ngga tau bagaimana me-monetize-nya, tapi dari awal memang sudah di-state, kalau kita bukan komunitas tapi cikal bakal startup yang memang akan dibuat next-nya. Mungkin banyak yang ngga nyadar ya hehehe.

Bahkan komunitas Blogger Perempuan baru terbentuk belakangan dan itu berada di bawah manajemen dan dikelola oleh Community Manager Mba Alaika Abdullah. Kami bertiga, ngga terlalu berkecimpung lebih jauh dalam pengelolaan karena memang bukan itu yang menjadi tujuan dibuatnya Blogger Perempuan Network. Kami lebih fokus bagaimana membangun environment yang baik dan saling mendukung dalam blog serta meminimalisir konflik yang mungkin terjadi.

Platform bloggerperempuan.com yang sekarang sudah beralih ke komunitas.bloggerperempuan.co.id memang dibuat sedemikian fungsional. Tidak hanya untuk nampang saja, tapi dapat memberikan nilai lebih blog seperti untuk showcase tulisan terbaru bahkan backlink berkualitas yang banyak dicari oleh blogger. Facebook Group dan Whats App group juga digunakan sebagai pendukung dan fokus hanya membahsa mengenai blogging.

Dalam waktu 2 tahun, growth yang terbilang cukup lumayan dengan menjaring 3200+ member blogger dan terus bertambah sepertinya tidak membuat kami berbesar hati dan membanggakan jumlah membernya. Karena semakin besar, tentu kami harus lebih bertanggung jawab supaya tidak masuk titik jenuh yang banyak dialami komunitas (tidak hanya komunitas blogger saja). Itulah kenapa, ada banyak hal yang dilakukan di BP Network.

Mulai dari kegiatan online dan offline yang terus dilakukan. Dari banyaknya aktivitas itulah, brand mulai banyak mengajak bekerja sama dan tentu saja, budaya keseriusan yang terbangun dari awal terbawa bahkan saat bekerja sama dengan para brand yang membuat lahirnya BP Network (PT Perempuan Digital Indonesia) yang menandai proses awal terbangunnya bisnis start up yang dibangun.

Empowering Others Not Yourself

Sampai saat ini, masih banyak yang mengira kalau Blogger Perempuan adalah komunitas saja. Padahal itu adalah salah satu divisi dari BP Network yang memang dibentuk untuk memudahkan berkomunikasi dan mendapatkan insight dari para member. Misi dari BP Network itu sendiri adalah empowering Indonesian Female Blogger. Dari mulai bagaimana membuat blog, optimasi, sampai kami memfasilitasi untuk monetize blog. Semacam all in one platform yang dapat dimanfaatkan oleh blogger.

Alhamdulillah, sampai saat ini kami banyak sekali mendapatkan tawaran kerja sama dan tentunya harus memilah-milah yang tentunya menguntungkan blogger. Karena kami berdiri di sisi blogger. Bagaimanapun itu, setiap perjanjian kerja sama harus sesuai untuk kedua belah pihak. Yang pasti, BP Network tidak mau merugikan blogger dan menghargai setiap tetes keringat yang dikeluarkan oleh blogger. Memang kata siapa nulis itu cuma doang wekekek.

Perjalanan membangun ini tentunya tidak mudah. Apalagi kami berkomitmen dalam masalah pembayaran yang selama ini selalu menjadi masalah untuk blogger. Walaupun begitu, BP Network masih bisa berdiri secara bootstraping tanpa bantuan penyandang dana besar. Sampai pada satu tahap, kami iseng mengikuti kompetisi Start Up yang diadakan oleh Bekraf. Memperebutkan 15 porsi bantuan dana dan terseleksi dari ribuan peserta dan alhamdulillah bisa menjadi salah satunya.

Menjadi salah satu pemenang dan berada di antara start up keren lainnya seperti Ahli Jasa, Sayur Box, Kostoom, eFishery, Geev, dan lainnya, bikin saya dan Alma kadang sampe terbengong-bengong. Karena walaupun masih banyak rencana dan produk yang mau kita buat, tapi rasanya bisa bersanding dengan mereka itu seperti mimpi wekekek. But well, perjalanan masih jauh kan ya. Ini baru awalnya.

So, poin dari tulisan ini sebetulnya adalah, saya cuma mau bilang. Blog adalah media yang sangat powerful, yang dapat memberikan kita banyak peluang, networking, bahkan membuka pintu rejeki untuk sesama maupun diri sendiri. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya πŸ™‚