Tau ngga, kalau asal kata Narsis adalah dari sebuah nama orang yang membanggakan dirinya sendiri. Alkisah, seorang yang bernama Narsisus mendapati wajah tampannya di pantulan sungai. Begitu dia tau, ternyata dirinya sungguh ganteng, tampan, dan keren. Tanpa disangka-sangka pada akhirnya dia sangat mengagumi tubuhnya sendiri dan tak henti-hentinya memamerkan tubuhnya. Itulah kenapa orang yang selalu mengagumi diri sendiri yang berlebihan disebut narsis. Familiar banget kan, narsis ini wekekek.

Info penting ini beserta penampakan si Narsis saya dapatkan sewaktu mengunjungi Museum di Tengah Kebun yang berada di tengah kota Jakarta tepatnya Kemang. Bersama rombongan blogger yang difasilitasi oleh perusahaan taksi yang sudah tidak asing lagi yaitu Blue Bird, kami bersama-sama masuk ke lorong waktu kembali ke masa-masa jaman Turasik (250 juta tahun yang lalu), Megalitikum dan melihat peninggalan berharga milik Indonesia dan negara luar.

Sejarah Museum di Tengah Kebun

Didirikan oleh Sjahrial Djalil, Museum di Tengah Kebun berada di Kemang Timur No 66. Menyempil diantara bangunan karena memang tipe tanah botol yang artinya menyempit di depan dan melebar bagian belakang. Dibeli pada tahun 1976, bapak Sjahrial memiliki cita-cita mulia untuk mengembalikan segala kekayaan alam Indonesia yang berbentuk arkeology. Seiring dengan bisnis advertising yang sukses dijalankan Bapak Sjahrial, beliau memiliki misi untuk mengumpulkan peninggalan sejarah Indonesia melalui balai lelang yang ada di luar negeri. Bersama keponakannya Bapak Mirza Djalil, mereka mengumpulkan satu demi satu dan menghabiskan waktu untuk membeli peninggalan yang tersebar di seluruh dunia. Total sudah enam puluh tiga negara dan dua puluh satu propinsi di Indonesia demi passion mereka di bidang arkeology.

Mirza Djalil

Museum di Tengah Kebun pada awalnya adalah rumah yang sampai saat ini masih di tempati oleh Bapak Sjahrial. Setiap sudut rumah diisi dengan barang-barang kuno dan antik lengkap dengan keterangan asal kota atau negara dan tahun pembuatannya. Semenjak dua tahun lalu, museum ini dibuka untuk umum. Jangan khawatir, semuanya gratis asalkan reservasi terlebih dahulu. Minimal grup adalah 7 orang dan maksimal 15 orang.

Rumahnya sangat asri dengan tanaman hijau yang mendominasi. Berada di tanah seluas 4200 m2, dengan luas bangunan hanya 700 m2 dan sisanya adalah kebun yang mengelilingi bangunan. Oleh karena itu disebut Museum di Tengah Kebun. Sistem bangunannya pun sudah sangat modern dengan kebun yang berprinsip biopori (penyerapan air ke dalam tanah). Dijamin begitu masuk akan merasakan suasana yang berbeda, seperti bukan berada di Kota Jakarta. Karena itulah saat memasuki Museum ini kita seperti memasuki lorong waktu karena akan langsung berhadapan dengan peninggalan sejarah di masa lampau.

Waktu itu kurang lebih saya dan teman-teman blogger berjumlah dua belas orang, sambil ngabuburit sambil nambah ilmu dan menikmati indahnya koleksi. Sejujurnya buat saya ini terlihat agak sedikit seram hahaha. Karena ini adalah peninggalan berusia ratusan tahun, bukannya tidak mungkin kalau masih ada yang menempel disitu qiqiqi. Bukan nakut-nakutin, tapi misteri ini memang katanya selalu ada, apalagi kalau niatnya kurang baik.

Koleksi Museum

Banyaknya koleksi disini sebetulnya tidak terhitung, karena yang saya perhatikan setiap sudut ruangan, setiap tempat ada barang antiknya. Ini mulai dari ruang tamu, ruang tengah, ruang baca, dapur, sampai kamar mandi juga berisi barang-barang antik. Semua di tata rapi dan rajin sekali dibersihkan oleh pegawai museum.

Jumlah koleksi yang tercatat di Museum ini adalah 2481 buah. Terdiri dari berbagai jaman mulai dari turasik, batu, dan abad dua puluh. Tiap ruang memiliki nama yang berbeda sesuai dengan barang antik yang dominan. Mulai dari peninggalan Cina yang berisi barang-barang yang ikut dikubur sama pemiliknya. Ada juga ruang Raja Eropa yang berisi perak-perak yang digunakan di abad 19. Tidak lupa kamar-kamar yang tempat tidurnya asli peninggalan kerajaan Solo. Dan masih banyak lagi yang kalau saya ceritakan ngga habis satu postingan hehehe.

Penghargaan Museum

Dengan manajemen keluarga dan kecintaan terhadap koleksi, ini terlihat dari rapinya penataan dan koleksi yang terawat dengan baik, Museum di Tengah Kebun ini mendapatkan banyak perhargaan untuk kategori museum. Walaupun bukan milik pemerintah, apresiasi banyak diberikan untuk museum ini. Total sudah empat penghargaan yang diterima semenjak dua tahun lalu dibuka. Diantara adalah sebagai penghargaan sebagai Museum Cantik.

Duh saya juga bisa bilang kalau museum ini cantik banget. Rapi, terawat, bersih, walaupun banyak benda asing dan antik tapi tidak jadi menyeramkan walaupun berkesan angker hehehe. Seseruan hari ini di akhiri dengan istirahat di taman hijau dan saung yang ada di tengah kebun. Disitu ada patung Ganesha besar yang beratnya mencapai 3,5 ton ckckck. Patung ini ditemukan di sebuah desa yang tentunya dibayar mahal untuk penemuan berharga ini. Wuih coba yuk cari-cari di sekitar kita kali aja ada barang berharga antik yang usianya mencapai ratusan tahun dan bisa dijual hehehe.

0 0 vote
Article Rating