Kalau dibilang musim penghujan adalah musim yang harus diwaspadai karena banyak penyakit, memang ada benarnya. Tapi masalahnya, musim sekarang ini sepertinya sudah tidak dapat diprediksi sesuai rentang musimnya. Perubahan iklim akibat El Nino dan La Nina, mengakibatkan musim hujan dan kemarau sudah tidak beraturan. Kadang kita mengalami kemarau panjang di musim hujan dan terkadang juga curah hujan yang cukup besar di musim kemarau.

Kalau sudah begini, saya paham kenapa anjuran pemerintah itu, harus waspada terhadap penyakit terutama penyakit DBD sepanjang tahun. Biasanya, di Bulan April menjadi bulan puncak untuk penyakit DBD. Akan tetapi, orang yang terkena DBD saat ini sudah tidak mengenal bulan. Makanya ngga heran, dua ponakan saya dan adik saya, sebelum lebaran Idul Fitri di Bulan Juli, mereka terkena DBD. Kemudian di Bulan Agustus, anak mba Zata juga terkena DBD. Bahkan yang terbaru, di awal Bulan September, Bowo yang seorang blogger muda juga harus menginap di RS karena DBD.

dbd

Tiga anak kecil ini kok ya mirip semua hehehe. Yang sedang tidur itu adalah keponakan saya yang sedang terkena DBD, hiks. Sedih rasanya, karena ngga hanya Cita yang imut-imut saja yang kena. Tapi Adeknya Cita dan juga papahnya yang adek saya. Jadi, seminggu sebelum lebaran itu, hampir tiap hari sekeluarga mengunjungi RS untuk gantian jaga.

Usut punya usut, sepertinya karena kolam ikan yang berada di belakang rumah. Karena pompanya sedang rusak, jadinya air tidak mengalir. Ditambah curah hujan yang cukup tinggi dan juga got depan yang alirannya tidak lancar. Jadilah sekeluarga kecuali ibunya, kena DBD. Sampai akhirnya, saat semuanya masuk RS, kolam langsung dibongkar supaya tidak ada genangan.

Salah satu penyebab berkembang biaknya nyamuk adalah genangan. Tapi ternyata tidak hanya itu saja. Diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan untuk pencegahan. Malahan, pemerintah memiliki program satu rumah satu jumatik, untuk pengawasan lingkungan bebas nyamuk. Tentunya, kita sebagai orang yang paling mengenali rumah kita sendiri, harusnya lebih bisa waspada dan lebih sering melakukan pencegahan.

Apalagi kalau yang namanya ibu, duh rasanya sudah kewajiban banget menjaga keluarga dari serangan nyamuk DBD ini. Kalau bukan ibu, siapa lagi yang akan melakukannya untuk keluarga khan. Nah, proses pencegahannya, saya yakin sudah banyak yang akrab dengan istilah yang selalu disosialisasikan oleh pemerintah. Yaitu 3M. Namun kali ini, ada tambahan plusnya.

Cegah DBD dengan 3M Plus

Serangan nyamuk semakin menjadi, tidak hanya demam berdarah, tapi juga Chikunguya. Yang terbaru yang sedang digalakkan juga pencegahannya adalah Zika. Bahkan di berita internasional, Zika sudah masuk ke Malaysia dan diperkirakan juga akan masuk ke Indonesia. Duh makin berat ya tugas ibu. Mana sering hujan juga akhir-akhir ini kan. Makanya penting banget melakukan 3M Plus ini. Antara lain:

  • Menguras tempat penampungan air
  • Menutup tempat penampungan air
  • Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas

Lakukan juga pencegahan demam berdarah, seperti:

  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  • Menggunakan obat anti nyamuk
  • Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
  • Tidak menggantung pakaian di dalam kamar
  • Menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air

Proses pencegahan ini harus dilakukan secara terus-menerus setiap hari sepanjang tahun. Jangan sampai lengah, karena penyakit DBD ini sebetulnya tidak ada obatnya. Jadi hanya mengisi cairan yang hilang saja dan mengembalikan jumlah trombosit ke jumlah normalnya. Selain pencegahan secara lingkungan, kita juga dapat melakukan vaksinasi untuk pencegahan loh. Tapi bukan berarti sudah vaksin, lalu akan kebal terhadap DBD. Namun dapat mengurangi risiko terkena DBD, karena ternyata seseorang dapat terkena DBD berkali-kali.

Pencegahan ini kelihatannya sepele, tapi ternyata, pemahaman diperlukan agar siap menghadapi wabah DBD setiap saat. Ngga perlu harus mengerti teori-teori yang ribet tentang DBD ini kok, tapi paling tidak, bisa memahami dengan baik bagaimana cara pencegahan yang benar. Toh tujuannya adalah melindungi keluarga kan. Jadi rasanya wajib banget punya pengetahuan lebih mengenai DBD ini.

Siap Menghadapi DBD?

Mau tidak mau, siap tidak siap, #DBD adalah sesuatu yang harus dihadapi saat ini. Lengah sedikit saja, keluarga jadi korban *hikss. Saya aja sedih banget lihat dua ponakan balita harus terbaring lemah dengan panas tinggi. Belum lagi melihat adek sendiri ngga bisa makan karena ngga berselera. Plus susahnya disuruh minum air putih yang banyak. Katanya badannya terasa sakit dan ngga nyaman.

Semenjak itu, saya selalu waspada dan sangat memperhatikan genangan atau wadah yang berisi air. Karena sudah mulai sering musim hujan tapi juga panas, sehingga suhu menjadi hangat. Pada saat itu, telur nyamuk dapat berkembang dalam dua hari saja loh. Jadi betul-betul waspada terutama setelah hujan. Selain pemahaman kenapa harus waspada setiap hari, kita juga harus mengenali gejalanya.

Kalau sedang mencari info lengkap tentang DBD atau yang juga disebut dengue ini, saya suka browsing di Dengue Mission Buzz. Sebuah situs yang memiliki misi untuk menyebarluaskan kewaspadaan kita tentang dengue. Walaupun sepertinya sudah hapal sekali tentang 3M Plus dan memang biasa dilakukan, ngga ada salahnya juga selalu belajar lagi.

Bahkan melalui info yang ada di situs Dengue Mission Buzz ini, saya baru tahu kalau dengue merupakan penyakit dengan penyebaran tercepat di seluruh dunia penyebaran melalui perantaraan nyamuk. Bahkan sudah 128 negara yang menjadi penyebaran dengue. Dan seseorang juga memiliki kemungkinan terkena dbd berkali-kali. Info lainnya yang saya tahu adalah tentang nyamuk Aedes yang memiliki waktu 7 hari saja untuk menjadi dewasa dari telurnya.

Untuk mengenali Nyamuk Aedes ini sebetulnya mudah. Nyamuknya mempunyai ciri belang hitam putih pada tubuh dan kakinya. Dan secara tidak sengaja, saya menemukannya di rumah. Dan hari itu adalah siang hari. Sesuai dengan sifatnya yang aktif pada pagi dan siang hari. Duh, rasanya jadi deg-degan. Karena itu artinya ada genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa virus dengue ini.

Oleh karenanya, setelah membaca tentang dengue di situs #DengueMissionBuzz, saya berinisiatif mengikuti kuis kesiapan dengue. Kuis ini sepertinya wajib banget buat saya untuk diikuti. Karena akan membuat saya lebih tenang, kalau ternyata saya sudah cukup siap untuk melakukan sesuatu yang melindungi keluarga. Kuis ini saya diikuti di sini. Dan alhamdulilah, hanya dengan sekali mengikuti, ternyata saya sudah cukup siap untuk mencegah #demamberdarahdengue di rumah.

Karena kesehatan keluarga adalah tanggung jawab orang tua terutama ibu, maka penting sekali pengetahuan mendalam tentang dengue. Apalagi sekarang juga sudah ada virus lain yang disebabkan oleh nyamuk seperti Zika. Duh peer makin banyak nih. Tapi yang terpenting, saya sudah waspada terhadap #DBD atau #Dengue 🙂

Sudah pada siap?

“Tulisan ini adalah opini pribadi dan didukung oleh Sanofi Group Indonesia.”