Tema ini kemarin menjadi perbincangan hangat di Majalah Noor dalam rangka focus group discussions. Saya awalnya juga ngga menyangka, kalau bakal diajak sama Mak Haya untuk ikutan diskusi. Mikirnya, saya memang suka social media dan aktif. Ada facebook, twitter, instagram, path, google plus, pinterest, sampai yang paling aktif adalah blog. Tapi saya bukan tipe yang cari follower sebanyak-banyaknya karena bisa dipastikan me-maintain itu semua ngga gampang.

Pada saat saya sampai di kantor Majalah Noor, saya yang super cuek karena memang biasa kerja dilapangan datang dengan pakaian kemeja rapi dan celana bahan. Ngga lupa pake boots juga, karena banyak paku di lapangan tempat saya kerja. Dan saya sempat kaget karena peserta diskusi lainnya adalah para fashion blogger yang terkenal banget hehehe. Iya saya kenal karena saya adalah follower mereka. Ngga nyangka dong, karena buat saya mereka udah masuknya idola yang banyak disukai terutama untuk hijaber. *berasa salah kostum

noor1

 

Selain saya dan Mak Haya, seorang emak blogger yang aktif banget. Ada Lulu Elhasbu, seorang fashion designer yang punya line Elhasbu dan juga founder dari Zaura muslimah Models dimana modelnya hanya memeragakan busana muslim dan mereka juga menggunakan hijab dalam kesehariannya. Lulu Elhasbu aktif di Instagram dan twitter dengan puluhan ribu followers. Wow. Begitu banyaknya pengguna instagram di Indonesia yang memiliki interest terhadap busana terutama hijab style. Selain instagram, blio juga aktif menulis di blog. Sehingga pada suatu saat ternyata ada undangan yang ditujukan oleh Lulu Elhasbu sebagai Blogger.

Untuk eksistensinya di Instagram, Lulu melengkapi diri dengan ipad mini untuk upload ke instagram dan mengandalkan kamera dengan lensa 50 mm yang memang cocok untuk portrait photography. Sedangkan dalam bentuk sosialisasi, kebanyakan lulu selalu berdiskusi dengan suami mengenai konten dan bagaimana berinteraksi dengan followernya. Hal ini memang menjadi momok. Karena di era social media saat ini, tidak jarang kita mendapatkan komentar yang negative. Sehingga, pengendalian untuk bersosialisasi seperti pembatasan konten sangatlah perlu dilakukan.

Narasumber yang kedua adalah Puput Utami. Blio adalah fashion blogger juga yang menampilkan fashion muslimah di dalam blognya. Selain ngeblog, puput juga aktif di twitter dan instagram. Instagram tentunya menjadi social media yang paling diminati bagi para fashion blogger karena mudahnya terkoneksi langsung dengan penggemar. Saat ini puput menjadi social media strategist di sebuah media online. Bagaimana puput bertindak sebagai perencana untuk strategi meningkatkan branding dalam social media dan juga langsung mengeksekusinya. Tentunya pengalaman sebagai social media strategist saat ini sudah bukan dianggap sebelah mata. Karena apalah suatu branding tanpa social media.

Untuk dunia blogger, puput juga aktif dan selalu menampilkan outfit of the day nya yang banyak menginspirasi orang dan ditunggu oleh para followersnya. Dengan tampilan yang manis, elegan dan tidak banyak pernak pernik sanggup menempatkan puput sebagai salah satu fashion blogger yang banyak diidolakan.

Narasumber berikutnya adalah Mak Haya Aliya Zaki. Siapa yang ngga kenal emak eksis satu ini. Menjadi contributor di beberapa media online terkemuka, kemudian aktif menulis dan mengedit dan yang terbaru adalah jawara dalam lomba blog dan live tweet. Emak Haya, menggunakan social media sebagai media untuk mengenalkan hasil karya blio pada awalnya. Semakin kesini, karena kepiawaiannya blio mengolah kata dan aktif menulis di blog akhirnya terjun secara total dalam dunia social media terutama twitter.

hayaaliyazaki

Menjadi buzzer dan publikasi komersil sudah dilakoni mak Haya. Hal ini membuktikan bahwa kualitas blog dan pengolahan kata yang baik menjadi modal utama seorang pelaku aktif social media. Bukan hanya sekedar eksis tapi juga dapat bermanfaat bagi orang lain karena informasi yang diberikan.

Sebagai ibu rumah tangga, pemisahan antara akun pribadi dan akun public tentunya harus dilakukan. Dan mak haya sebagai ibu juga tidak memasukkan ranah pribadi untuk diketahui secara public demi alasan keamanan dan memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain. Berkat mak Haya, blogger akhirnya menjadi salah satu profesi yang patut dibanggakan karena bagi beberapa agensi atau brand memandang blogger sejajar dengan media utama lainnya.

Dan saya sendiri sebagai narasumber juga banyak memberi masukan terutama beberapa isu-isu yang saya ketahui dan akhirnya sedikit banyak menjadi perdebatan yang alot hehehe. Padahal awalnya kita santai berdiskusi dan sampai pada satu titik dimana seharusnya ada hal-hal yang menyangkut etika dan juga pertanggungjawaban kita sebagai social media influencer.

Untuk cerita lengkapnya, nanti bisa dilihat di Majalah Noor Bulan Maret 2014 yaa…