Sebetulnya bukan saya, tapi adek nomor 3 saya yang sembuh dari covid 19. Alhamdulillah setelah isolasi mandiri di rumah dan dirawat dengan baik oleh adek saya yang nomor 2, bisa sembuh dan kembali normal penciumannya.

Awalnya, kita ngga tau dapat dari mana. Saya ngga akan bilang keluarga saya taat prokes, ya pasti ada aja celahnya. Malahan keluarga saya yang memang hati-hati juga tapi ya masih jalan-jalan. Masih nginep di vila Bandung, masih nginep juga di Sukabumi, dan makan jalan seperti biasa. Well ini waktu corona belum seganas sekarang karena sudah bermutasi menjadi Delta Variant, dan pada akhirnya kita sekeluarga kapok. Beneran mau di rumah aja sekarang.

Jadi di waktu sebelum Bandung ditutup untuk warga luar, Ibu dan dua adek saya (beserta istri anaknya) baru pulang dari liburan ke Bandung. Mereka nginep di vila di Lembang dan pergi ke beberapa tempat wisata yang agak rame keliatannya.

Lalu pas tau Bandung berdarah-darah dengan kondisi penularan dan RS yang penuh, sekeluarga ikutan panik dan berusaha banget dapetin vaksin. Untungnya memang sudah diberlakukan vaksin 18+. Karena adek saya yang nomor tiga dan empat sedang kerja bareng saya di Hiip, saya jadi bisa kasih surat keterangan kerja di Jakarta. Akhirnya mereka berdua bisa dapet vaksin pertama, sementara memang Tangerang yang jadi domisili keluarga saya, belum ada.

Sampai situ bersyukur banget (iya apa apa sekarang mesti disyukuri), masih bisa dapet satu suntikan di awal. Karena satu minggu setelahnya, adek saya yang nomor 3 positif covid. Agak kaget sebetulnya karena lumayan terpaut jauh dari perjalanan Bandung. Jadi kami mengira, adek saya justru kena di Masjid komplek. Kenapa penting kita tau dimana kenanya, karena harus tracing dan menjadi peringatan bagi orang lain juga khan.

Ibu saya dan dua adek saya tinggal di sebuah kompek pegawai negeri di Tangerang. Setiap harinya semenjak adek saya positif, selalu ada berita duka yang disiarkan melalui toa masjid. Ngeri sebetulnya, karena yang meninggal sudah bukan satu dua orang, tapi kadang tiga empat sekaligus. Rata-rata berprofil, bapak-bapak berusia, belum/tidak mau vaksin, jarang pakai masker, dan rajin ke masjid. Kejadiannya pun berbarengan waktunya dengan adek saya saat dinyatakan positif. Jadi ngeri banget kalo ngga bisa sembuh dari covid 19.

Ada banyak sekali yang kena di komplek situ, terlihat dari banyaknya yang jemuran pagi. Belum lagi info di WA grup yang menginfokan, sakit, butuh tabung, cari rs, atau sedang kritis. Rasanya horor banget. Apalagi di rumah ada ibu saya yang tentunya sudah sepuh dan adek saya yang paling kecil. Untunglah adek saya yang nomor dua sedang ada di Jakarta, jadi masih bisa merawat dan menjaga ibu serta adek saya. Saya sendiri? Duh suami udah rempong ngga memperbolehkan menengok karena saya sendiri punya asma.

sembuh dari covid 19

Awalnya, yang sakit sebetulnya ibu saya dan memutuskan untuk tes antigen yang ternyata negatif. Besokkannya, adek nomor 3 saya yang sakit karena menemani ibu saya tidur. Tadinya ibu saya juga ngga bolehin tes lagi untuk adek saya, karena ngerasa negatif. Delalah, adek saya yang nomor 2 datang dan butuh tes antigen karena ada rencana balik ke tempat kerjanya di Kendari. Di situlah akhirnya dua adek saya tes dan yang nomor 3 jelas terlihat kalau positif. Ditambah lagi karena gejalanya makin parah dan tidak berkurang, akhirnya kita semua yakin kalau itu memang Covid.

Perasaan awalnya, ya ampun! Remuk redam, sakit hati, shock, bingung, apalagi ibu saya. Beliau yang tadinya percaya diri itu bukan covid seketika nangis sedih mengetahui fakta bahwa adek saya terpapar. Adek saya yang nomor 2 juga bingung setengah mati. Ini harus gimana dan kemana. Padahal kita tau kalau semua tempat kesehatan sudah penuh apalagi rumah sakit. Akhirnya diputuskan untuk isolasi di rumah, di kamar adek saya sendiri dan lapor Puskes untuk mendapatkan obat.

Untungnya adek saya memang punya kamar sendiri dengan kamar mandi sendiri pulak. Ini penting banget, karena kamar mandi jangan sampai bercampur dengan orang lain untuk menghindari penularan. Apalagi yang dijaga sebetulnya bukan hanya adek saya yang terpapar Covid tapi juga ibu saya yang sudah sepuh dan mentalnya jatuh.

Alhamdulillahnya, masa-masa isolasi bisa terlewati dengan baik tanpa ada penularan ke orang rumah lain. Berat rasanya melewati 14 hari yang penuh drama dan air mata, sampai akhirnya sembuh dari covid 19. Apalagi banyak berita duka dan berita buruk yang ada di televisi. Nah, karena sudah terlalui masa berat ini, saya jadi pengen sharing apa saja yang harus dilakukan ketika mendapati anggota keluarga positif covid atau bahkan mungkin diri sendiri.

Tapi sebelumnya, karena saya juga banyak mendengar berita teman teman yang kehilangan anggota keluarga, saya betul-betul turut berduka cita. Saya paham rasanya gimana memiliki keluarga dekat yang positif, yang tidak hanya dibayang-bayangi rasa kehilangan, tapi ikut merasakan bagaimana kehilangan itu sendiri. Ngeri rasanya lihat pandemi di Indonesia yang rasanya tiada akhir.

Sembuh Dari Covid 19

Pertama-tama, yang harus dilakukan pada saat ada anggota keluarga yang kena adalah PANIK. Ya paniklah! Masa engga! Wkwkwkwk DOH!

Yang kedua, tenangkan diri dulu tarik napas, kalo mau nangis ya ngga papa biar lega dan langsung ke langkah berikutnya biar cepet sembuh dari covid 19.

Yang ketiga, lapor RT. Syukur-syukur dapet Pak RT yang mau bantuin juga lapor ke Puskesmas ya. Kalo engga, bisa dateng langsung ke Puskesmas sesuai Faskes. Nanti mereka punya call center WA yang setiap orangnya dikasih nomor berbeda. Nampaknya ini adalah nomor dokter yang ditugaskan ke beberapa pasien sekaligus. Tapi nanti sabar ya menunggu jawaban WA, karena mereka bisa jawab 1×24 jam. Penuh dan ribet di sana udah pasti.

Yang keempat, kalo ada gejala langsung konsul by WA dan nanti akan diresepkan obat yang bisa diambil di Puskesmas. Oia kalau bisa memang ada yang menjaga ya. Tapi kalau sendirian, harus siap ke sana kemari untuk tes PCR atau ambil obat. Ini menurut beberapa pengalaman temen, mereka memang naik motor atau grabcar sendiri untuk menuju Puskes dalam keadaan positif.

Yang kelima, pesan catering (kalau ada dana lebih) atau masak masakan yang sehat bergizi dan harus hangat. Walau (katanya) rasanya nano-nano ngga karuan atau bahkan ngga ada rasa, tetep harus dipaksa makan untuk bisa minum obat. Adek saya sampai disuapin waktu masuk fase kritis selama 3 hari karena ngga bisa bangun. Jadi selain makanan sehat, sebaiknya juga siapkan buah-buahan segar yang bisa dikonsumsi.

Yang keenam, sedia alat pendukung. Saya beli 2 termometer, 2 oximeter, dan 2 tabung oksigen kecil. Satu untuk adek saya dan satu lagi untuk ibu saya. Karena selain adek saya, tentunya ibu saya juga penting untuk dijaga kesehatannya. Apalagi bapak saya sudah ngga ada, saya dan adek adek saya ngga siap untuk kehilangan lagi. Termo dan Oximeter HARUS banget dipakai minimal sehari 2x untuk mengukur kondisi badan harian. Oia satu tambahan, saya juga menggunakan Omron nebulizer yang ternyata efektif banget bantu pernapasan dikala mampet hidungnya.

Kebanyakan kasus pasien isoman, mereka kecolongan di bagian pengukuran saturasi oksigen. Kondisi memang bisa terlihat baik dan ketawa-ketawa di pagi hari, tapi siang atau sore hari, saturasi bisa turun dan akhirnya drop. Di sinilah masa-masa kritis yang sering menjadi momok. Karena begitu sudah drop, tidak ada oksigen tambahan, dan sekarang sudah susah mendapatkan rs, apalagi oksigen sehingga nyawa bisa menjadi taruhannya. Jadi harus terus dipantau setiap harinya setiap waktu. Jangan sampai lengah.

Yang kedelapan, gunakan double masker dan sarung tangan apabila kontak dengan penderita saat merawat. Bagaimanapun, ngga bisa pasien isoman ditinggal sendiri. Mereka harus dibantu dan harus dilihat kondisinya secara jelas. Jangan lupa, yang jaga juga harus jaga kesehatan dan langsung mandi begitu selesai kontak. Bahkan cara membuka baju dan masker juga harus berurutan dan jangan sampai menyentuh kulit. Adek saya sampai harus me-laundry terpisah bajunya yang sudah kontak, biar aman. Oia, rutin semprot disinfektan juga perlu ya untuk seluruh ruangan.

Yang kesembilan, beli obat herbal. Saya ngga tau ini membantu apa engga, tapi yang pasti dengan tingkat kesembuhan yang tinggi dan hasil negatif dalam waktu kurang dari 14 hari, saya rasa obat herbal ini juga ikut membantu. Karena memang belum ada obat, jadi yang dilakukan hanya menaikkan imun dan memperbanyak asupan energi untuk melawan virus.

Berikut yang saya beli: Quds al hindi, HDI Propoelix Power Set yang terdiri dari Royale Jelly Liquid, Clover Honey, dan Pollenergy, ngga lupa beli SUSU BEARBRAND (IYA SUSU) untuk nutrisi juga. Trus ada juga beli jus Rejuve yang untuk meningkatkan imun. Pokoknya apa aja saya beli deh demi kesembuhan adek dan imun buat keluarga. Dan yang pasti, cepet-cepetan deh vaksin, karena sepertinya yang membantu untuk sembuh dari covid 19 ini adalah vaksin.

Yang kesepuluh, banyak berdoa, tetap waras, dan berpikir jernih. Ini yang susah, karena sejujurnya mental keluarga saya sempet kena dan kami larut dalam kesedihan dan kelelahan pikiran. Berat banget rasanya. Ditambah lagi banyak pemberitaan, pengumunan masjid, dan banyaknya yang terkena dari tetangga sekitar. Tapi jangan lelah berdoa dan berusaha supaya penderita bisa sembuh dari covid 19.

Saya sendiri tetap browsing covid, nonton berita, dan mantau timeline. Selain memperbanyak informasi logis dan sains, saya juga butuh apa saja update berita, dan hal-hal penting untuk diketahui saat isoman supaya bisa sembuh dari covid 19. Dan ternyata, yang paling penting dari semuanya adalah support keluarga yang kompak, yang mau bekerja sama, dan saling jaga satu sama lain. Hanya itulah sisa-sisa kekuatan kami untuk melawan virus, karena kami semua masih pengen hidup dan selamat dari pandemi. Sama seperti yang lain!

0 0 votes
Article Rating