Bukannya sama keluarga, tapi kayaknya sebagian lebaran saya dihabiskan bersama Google Maps hehehe. Buat saya, kalo lebaran itu artinya punya libur lebih banyak bersama keluarga. Jadinya pasti jalan-jalan ke tempat wisata. Nah, karena sebetulnya saya buta jalan, apalagi suami saya yang ngakunya orang Semarang tapi juga ngga tau jalan, satu-satunya harapan kita adalah Google Maps.

Teknologi ini ngebantu banget. Hampir akurat dan info lalu lintasnya sangat-sangat membantu. Pada awalnya, karena mudik dari Jakarta ke Semarang dengan kereta, kita belum menggunakannya. Tapi sempet ngecek-ngecek juga merahnya jalanan di Brexit yang bener-bener tragedi nasional itu. Dan akhirnya Google Maps dimanfaatkan oleh adek saya untuk tidak melewati jalan tol tapi Pantura biasa. Anak Gen Y banget deh ya, jadi ngga bisa lepas dari produk Google bahkan smartphone.

Yang seru dari fitur Google Maps ini, ternyata ada update terbaru pencarian tempat seperti pom bensin, mini market, restoran dan lainnya. Suami sempet nanya, loh kok bisa cari kaya gitu, gimana caranya? Nah, sayapun baru tau kalau ada fitur terbaru saat diundang buka puasa bersama bareng Google Indonesia. Jadi mudah banget, kita cari icon search (kaca pembesar), dia langsung keluar pilihan apa yang mau dicari. Uniknya lagi, kalau kita mampir ke pom bensin, otomatis akan me-reroute ke perjalanan semula.

Fitur lainnya dari Google Maps yang saya manfaatkan adalah dowload peta offline. Tau sendiri kan, daerah yang banjir jaringan cuma Jakarta, jadi jangan harap kota lain apalagi daerah pedesaan bisa mendapatkan jaringan sebagus Jakarta. Makanya paling aman adalah download petanya secara offline. Yang tidak bisa didapatkan hanyalah info lalulintas, tapi sebetulnya bisa dipakai secara pararel. Jadi gini, kalau sudah mengunduh offline, kemudian yang dipakai adalah online, suatu saat jaringan online mati, secara sistem otomatis akan langsung berpindah ke peta offline. Jadi tidak perlu takut kehilangan jejak.

Selain Google Maps, saya juga memakai fitur unduhan offline untuk Youtube. Karena perjalanan mudik bisa berjam-jam dan bakal tekor data jadinya siapin unduhan banyak-banyak buat ditonton di jalan hahaha. Apalagi buat anak-anak yang hobi banget nontonin video slime dan berbagai macam channel anak-anak. Memakai fitur simpan offline ini, bikin irit dan anteng juga buat anak-anak. Buibu yang suka ngomel data cepet abis karena ngga pake wifi, gunain deh solusi ini wekekeke.

Menemukan Umbul Sidomukti di Atas Pegunungan

Peer pertama menggunakan Google Maps adalah menemukan Umbul Sidomukti di ketinggian 1200 dpl. Lokasinya di Bandungan yang sesungguhnya sangat susah ditemukan karena letaknya yang benar-benar di atas. Walaupun banyak sekali petunjuk, tapi tetap saja ngga memiliki rasa keamanan karena ngga nyampe-nyampe. Dan Google Maps beneran berfungsi banget. Aplikasinya menunjukkan estimasi waktu yang tepat ke tempat tujuan. Jadi kalau anak-anak saya sudah ngga sabar, “Berapa lama lagi mah?” tinggal tengok Google Maps dan jawab “10 menit lagi ya sayang”. Hahaha sebetulnya ngga anak-anak aja yang ngga sabaran, sama kok ortunya.

Saya sendiri takjub dengan kemampuan Google Maps yang menemukan Umbul Sidomukti secepat itu. Karena pada awalnya, kami ngga berencana ke sana, tadinya mau langsung ke Jogja. Tapi karena mertua memberitahu kalau macet dan dilarang ke Jogja, jadilah putar balik. Padahal saya dan suami sudah cek loh di Google Maps kalau jalanan lumayan lancar, tapi ya sudahlah lebih baik menuruti orang tua khan.

Trus iseng cek-cek di Google Maps ada wisata apa ya yang ada di dekat Ungaran situ, ketemulah Umbul Sidomukti yang waktu browsing baru ngeh pengen ke sini. Sedangkan suami tadinya ngga mau, karena menurutnya tempatnya jelek dan dulu sudah pernah ke sana. Barulah setelah browsing photo dan ternyata bagus banget karena sudah direnovasi, jadilah memantapkan ke sana dengan bantuan Google Maps.

Jalanan yang ditunjukkan oleh Google Maps ke Umbul Sidomukti ini 100% akurat. Kenapa begitu? Nanti saya cerita deh yang ngga akuratnya dan kudu pake GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) hahaha. Dari jalanan utama diarahkan melalui jalan pintas yang tidak umum dilalui, yaitu jalan menuju ke Banaran. Suami sempat gelisah, karena ini sepertinya bukan jalan utama. Tapi karena percaya banget dengan Google Maps, tetap aja dilewati. Walaupun kecil tapi jalannya sudah beraspal dan pemandangannya keren banget.

Setelah perjalanan 10 menit karena ngga ada macet, sampai di pertigaan yang jalan umum digunakan untuk ke Umbul. Dari situ, perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Karena kanan kiri adalah jurang yang dalam banget dan beberapa jalan dialihkan agak tidak 2 lajur sekaligus. Bahkan saya sempat amaze saat ada mini bus bisa melewati juga karena tanjakannya yang cukup curam. So, setelah menahan napas dan berpetualang melewati pegunungan, sawah, perkebunan, sampai juga di kawasan wisata yang cukup ramai ini.

Umbul itu sendiri artinya adalah mata air. Jadi sebetulnya ini adalah mata air pegunungan Sidomukti. Dulu hanya berupa mata air saja, namun sepertinya sudah mendapatkan investor bagus yang mengelola dengan sangat baik. Sehingga di Umbul Sidomukti ini ada kolam renang, resort, vila, dan restoran juga. Lengkap kalau mau santai menikmati udara pegunungan.

Karena yang dibawa anak-anak, jadilah agendanya berenang. Mereka suka banget berenang dan kolam yang ada ini memang kolam yang dibentuk melingkari mata airnya yang mumbul. Kolamnya itu sendiri ada dua di dua tingkat yang berbeda. Jadi untuk dewasa dan anak-anak memang dipisah. Harganya murah banget, cuma 15rb perorang dan bisa sepuasnya. Sebetulnya harga tersebut untuk masuk ke kawasan wisata alamnya. Kalau mau flying fox, ATV, dan kegiatan alam lainnya tinggal bayar lagi. Masih sangat murah banget buat saya sih *setelah membandingkan dengan berenang di klub Semarang yang overprice.

 

Karena sudah melewati hari libur lebaran, penuhnya ngga terlalu kaya cendol hehehe. Masih bisa kok berenang dan menikmati alamnya tanpa harus berdesakan. Dari ketinggiannya, kita bisa berenang sambil menikmati pegunungan yang ada di Ungaran plus kota Semarangnya. Duh kalo malam pasti bagus banget yah. Dan bocoran dari Mba Evi yang sudah menginap di resortnya, katanya beneran indah banget. Besok-besok mau nginap juga deh sekalian kalau ke Semarang lagi.

Menemukan Gereja Ayam Mengunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar)

Saking percayanya dengan Google Maps, I just can’t live without it. Beneran loh. Karena khan ngga tau jalan hahaha. Jadi apa-apa carinya melalui Google Maps. Semua baik-baik saja, bahkan sampai melalui jalan kampung kecil yang sepi di Jogjakarta pada tengah malam. Entah gimana, mapsnya menunjukkan arah jalan yang mungkin lebih singkat tapi kok ya agak horor hahaha. Dan yang lebih horornya, karena jalan gang sepi, rumah sudah tutupan semua, plus di mobil lagunya terputar gending Jawa. Alamak, tambah gemetaran nyetirnya. Tapi untungnya rame-rame di mobil jadi takutnya juga bareng wekekek.

Sampai pada suatu hari, rencana liburan di Jogja ngga lengkap kalau ngga main ke Gereja Ayam yang ternyata sekarang sudah berubah menjadi Gedung Merpati. Lokasinya memang dekat dengan Candi Borobudur. Terlihat di Google Maps mudah dijangkau, jadi pede untuk ke sana. Dari Kota Jogja kira-kira 30 menit karena lumayan ngebut. Jalannya bagus dan lancar walaupun berkelok. Saya sarankan sih selalu memakai Google Maps, karena kalau salah belok jadinya malah muter-muter. Salah-salah bisa nyampe Purwokerto hehehe.

Nah, ternyata lokasi Gereja Ayam yang ditunjukkan oleh Google Maps itu salah *ouchh. Akan susah sekali ditemukan jika menggunakan Google Maps. Jadi penunjuknya menunjukkan belok di jalan ke arah Punthuk Setumbuk. Yang mana jalannya bukan jalan yang mudah dilewati mobil. Pada saat saya belok di gang tersebut, tiba-tiba diberhentikan oleh bapak-bapak yang bertanya mau ke mana. Karena kalau ke Punthuk Setumbuk memang benar di situ, tapi kalau Gereja Ayam, lokasi yang ditunjukkan oleh Google Maps salah. Jeng jeng! Kaget dong hahaha. Google Maps bisa salah.

Sebetulnya ngga salah, yang salah adalah jalan masuknya. Seharusnya ada gang yang lebih dekat lagi. Dan payahnya, kita percaya aja dengan bapak-bapak itu yang mengantarkan sampai ke tujuan dengan membayar. Hadeuh, dikirain mah jauh dan berkelok-kelok. Tapi ternyata, 30rb kok jadinya kebanyakan ngasihnya hahaha. Hanya beberapa meter dari gang Punthuk Setumbuk, kira-kira 50 meter, ada gang yang bertuliskan Gedung Merpati, belok kiri, ngga jauh dari situ sudah sampai. Alamak, kita diperdaya karena kesalahan arah jalur yang ditunjukkan oleh Google Maps. Akhirnya Gunakan Penduduk Sekitar deh hahaha. Hati-hati ya kalau besok pakai Google Maps untuk menemukan Gereja Ayam.

Gereja Ayam ini sendiri ternyata sudah berganti nama menjadi Gedung Merpati. Karena memang yang saya baca sebelumnya adalah merpati bukan ayam. Dan mungkin ya, mungkin, penggantian nama dari Gereja untuk lebih umum aja. Tempatnya sendiri sudah sangat friendly turis. Mulai dari parkiran mobil yang luas plus toilet, akses naik yang cukup nyaman walaupun tanjakan, karcis tiket masuk untuk pengembangan gedung, dan bisa naik jeep tapi bayar untuk sampai ke gedungnya. Tiket masuknya per orang 10rb, kalau anak 2 dihitung 1 aja hehehe. Mayan kan.

Jadi, dari parkiran itu ternyata masih naik dan menanjak. Saya sampai tidak kuat hahaha. Karena sedang flu dan agak sedikit sesak napas. Rasanya ngos-ngosan banget, padahal dua anak saya semangat bener naiknya. Setelah naik separo, baru tahu kalau bisa bayar 7rb/orang untuk naik jeep. Ngga capek, tinggal duduk manis dan sampai. Sayapun naik itu saat turun karena sudah ngga sanggup jalan menurun hahaha.

Intinya di Gereja Ayam, kita bisa melihat pemandangan alam pegunungan dari ketinggian. Menurut informasi, bukanya mulai dari jam 5. Saat sunrise dan tutup jam 6 sore. Tempat ini jadi rame banget semenjak AADC, ngga heran spanduknya juga ada Cinta dan Rangga. Kalau ke sini, siap-siap bawa air dan siapin fisik yang bagus karena banyak naiknya. Mulai dari menanjak ke Gedung Merpatinya sampai naik tangga yang tinggi untuk sampai ke tingkat paling atas. Saya ngga ikutan, karena lelah kakak.

Akhirnya dua anak saya yang naik, sementara Aliya sendiri ngga berani naik sampai puncak. Kata Rafi, pada saat naik ngga boleh dekat-dekat pinggir. Berbahaya katanya hehehe. Dan dia bilang sendiri, pemandangannya bagus dan suka berada di atas sana. Yah, kapan-kapan saya nyoba deh pas udah sehat. Besok-besok naik jeep aja naik turunnya hahaha. Males banget deh eike.

Nggak Jungkir Balik Cari Upsidedown World Yogyakarta

Cari Upsidedown world memakai Google Maps, beneran gampang. Pada saat ditanya di IG sama Ika Mitayani lokasinya Upsidedown World Yogya, saya ngga bisa jelasin itu ada di mana. Karena beneran cuma buka Google, trus Googling Upsidedown World. Langsung muncul photo, lokasi, jam buka tutup, plus jalan serta estimasi waktu dari hotel saya berada. Yang ternyata cuma berjarak 10 menit aja karena memang sama-sama di ring road utara.

Secara jelas, Google Map menunjukkan arah yang tepat. Bahkan sampai arahan untuk mengambil jalur lambat karena sudah mendekati lokasi. Ngga pake lama dan ngga pake nyasar, langsung tiba di tujuan. Jadi beneran jangan ragu cari petunjuk dengan menggunakan Google Maps. Akurat banget. Kayaknya akurat itu kalau di kota kali ya wekekek.

Upsidedown World ini tadinya cuma sekilas kepikiran aja. Ngga ada rencana untuk ke sana. Tapi karena melihat lokasi yang dekat dan waktu berkunjung yang masih lama, akhirnya jalan juga walaupun belum mandi sore hahaha. Anak-anak sih udah yaaa. Dan Rafi spesial dipakein piyama karena baca-baca di blog lain, ada tema kamar tidurnya. Jadi mikirnya lucu aja dengan outfitnya dia.

Harga tiket masuknya, lumayan mahal juga sih ya. Karena hari sebelumnya tuh lagi diskon 50% hahaha. Jadi masih ngarep banget dapat harga yang lebih murah. Tapi karena sudah melewati masa lebaran, akhirnya harus puas dengan harga 80rb perorang dewasa dan 40rb untuk anak-anak. Sepuasnya bisa menghabiskan waktu di sini dan suka-suka banget mau foto di properti ruangan mana aja.

 

Yang paling saya suka di sini itu, setiap properti selalu ada yang jaga. Mas dan mbaknya selalu siap buat motoin. Yang lebih asik lagi, ngarahin gaya supaya jadi keren banget potonya. Soalnya nih waktu pertama kali, kok kayaknya bingung mau poto gimana, gaya apa, dan bentuknya seperti apa sih di poto. Karena propertinya kebolak-balik dan kudu muter kepala buat ngeh ini apaan wekekek. Dan hasil potonya lucu banget jadinyaa.

Paling enak memang rame-rame, jadi bisa photo bareng dengan berbagai macam gaya. Kalau sendirian atau berdua menurut saya kayaknya agak mati gaya 😛

Susah Cari Alamat Sate Klathak Pak Bari? Ngga Lagi Kalo Pake Google Maps

Saya sudah bilang kan, kalau solusi terbaik jalan-jalan yang ngga tau alamat sebaiknya manfaatkan Google Maps hehehe. Begitu juga kalau mau makan tempat kekinian yang lagi ngehits banget. Apalagi kalau bukan demam AADC dengan Sate Klathaknya. Sejujurnya, satenya beneran enak. Lebih enak lagi kalau bisa nongkrong lama sambil ngobrol di warungnya itu. Sayangnya, semenjak AADC, warungnya Pak Bari ini penuh banget.

Ngantrinya bisa panjang dan jadi ngga nyaman. Karena terakhir, saya udah selesai makan trus pengen ngobrol jadinya ditungguin hahaha. Ngga enak banget kan. Padahal, saya waktu itu udah nongkrong dari jam 5.30 sore dan warung baru buka di jam 6.30 sore. Jadi bener-bener tamu pertama dan melihat beberapa jam persiapan sebelum buka, parkiran tiba-tiba langsung penuh. Dari segi masakan, mungkin karena baru pertama kali makan sate dengan tusuk jari-jari sepeda, agak aneh ya hehehe. Tapi rasanya enak, daging terasa, apalagi kuah tengklengnya. Suegerrr.

Akhirnya pada waktu kemarin bawa anak-anak, karena melihat parkiran mobil yang udah susah parkir. Jadilah belok ke Sate Pak Jono yang lebih sepi tapi ternyata satenya lebih enaakkk. Anak-anak habis 6 porsi alias 12 tusuk dan langsung bilang pengen langganan makan. Lah, berat diongkos dong dek wkwkwkw. Harganya lumayan mahal juga sebenernya. Satu porsi dua tusuk kalo ngga salah 10rb. Tapi dengan daging sapi dan irisan yang besar, kayaknya masih worth lah ya. Yang repot kalo ngga kenyang 2 tusuk, jadinya nambah terus wekekek.

Entah anak saya yang kelaparan atau doyan, tapi seneng banget mereka menghabiskan nasi satu piring dan sate masing-masing 3 porsi wkwkwk. Jadi memang kalau tertarik mau cobain sate klathak yang lagi ngehits ini, datang jam 5.30 sore kalau memang niat banget pengen makan Sate Pak Bari. Tapi kalau rupanya datang dari jauh dan diputer-puter Google Maps, bisa juga alternatifnya ke Pak Jono yang sebelum Pak Bari lokasinya. Sama enaknya, sama kekiniannya kok daripada kudu berebutan dan kelaperan hehehe.

Nah, panjang dan lumayan seru yah lebaran tahun 2016 ini ^^. Alhamdulillah banget bisa jalan-jalan dan menikmati wisata serta kuliner.

0 0 vote
Article Rating