Jepang tentunya menjadi impian bagi banyak traveler. Begitupun saya. Sudah menyukai Jepang semenjak kecil, yang selalu ditemani aneka tayangan Jepang. Seperti Google V, Saint Saiya, Anime Sailormoon, Komik Dragon Ball, J-Drama Tokyo Love Story, sampai mengidolakan Kotaro Minami Jepang. Rasanya Jepang adalah tempat yang paling ingin saya kunjungi saat itu.

Tapi, tidak seekstrim teman saya yang mengambil kuliah Sastra Jepang dan sekarang memang meneruskan sekolah disana. Saya yang lebih senang dengan hitungan sama sekali tidak mempertimbangkan mengambil jurusan yang berbau Jepang hehehe. Toh, suatu saat saya akan ke sana juga.

Sebelum arus K-Wave melanda, saya cukup akrab dengan hal-hal yang berbau Jepang. Apalagi sebelum krismon, ayah saya memang biasa bolak balik ke Jepang dengan oleh-oleh beras Jepang, gantungan kunci lucu, dan berbagai macam boneka pesanan saya. Bahkan sampai sekarang saya masih punya banyak koin yen sisa perjalanan. Di tambah lagi adek saya yang juga berprofesi sama dengan ayah saya, sering banget bolak balik Jepang. Membawa makanan paling populer seperti Tokyo Banana, Dorayaki, sampai bawa baju Uniqlo yang dia klaim murah banget daripada di Jakarta.

 

Loading

ada break ada #kitkat #bukaniklan

View on Instagram


Tiba di pikiran saya, kapan? Kapan? Kapan? *sambil manyun.

JapanSampai suatu saat, saya berpikir. Tempat yang harus gw datengin kalo udah punya waktu traveling adalah Jepang untuk Asia. Ogah ke KL, Thailand, bahkan juga ke Korea sebetulnya ngga minat banget. Tapi apa mau di kata, gelombang energy Korea menerpa saya habis-habisan. Akhirnya dengan berat kantong, saya cus duluan mengunjungi Korea karena keduluan dapet tiketnya hehehe.

Dan setelah saya merencanakan pergi ke Jepang di tahun 2015, datanglah kesempatan yang tidak terduga. Secara mengejutkan, Detik Travel bekerja sama dengan Skyscanner mengadakan #DreamDestinationJapan, iya perjalanan impian ke Jepang. Wuih rasanya gimanaa gitu, deg-deg ser. Ini yang benar saya impikan sebetulnya. Tapi emang pasti bukan impian saya aja hehehe. Saya tau pasti banyak sekali yang menjadikan Jepang sebagai Negara impian untuk traveling bahkan untuk hidup.

Berbekal nasib keberuntungan, akhirnya saya ikutan mendaftar dengan tutup muka dan telinga. Alias, ngisi, udah gitu ya tinggalin hehehe. Saya sama sekali tidak memantau perkembangan dan tidak ingat juga kapan pengumuman. Tau-tau pas lagi iseng lihat timeline twitter-nya Detik Travel sudah mau pengumuman. Yang bunyinya mereka akan menelepon satu-satu para semi finalis 150 besar. Dan saya pede aja dong jadi bawa hape kemana-mana dan irit pake 3G, qiqiqi. Maklum ngarep banget di telepon.

Ngga taunya saya lupa *tepokJidat. Saya lupa lagi nunggu telepon, saya lupa hari itu pengumuman. Dan baru ingat setelah hari kedua setelah pengumuman dan saya mendapatkan email tentang wawancara. Setengah bingung, oalah saya ternyata terpilih dan kebetulan sebagai semi finalis cadangan qiqiqi. Maksudnya saya menggantikan orang yang tidak bersedia hadir. Apalagi pas saya cek ke daftar finalis, nama memang ngga ada. Yo uwis berarti keberuntungan aja buat saya qiqiqi.

Semifinalisdreamjapan

Oia jadi saya sempat ambil benang merah kenapa saya terpilih jadi semi finalis. Perlu dicatat, yang daftar sebanyak 6.700an orang *fiuh. Dari berbagai kalangan dan profesi. Kebanyakan nih, yang diambil adalah anak muda *wew. Artinya rata-rata di bawah 30 tahun. Mereka semua traveler, mengisi resume dengan banyak impian apabila mereka ke Jepang. Rata-rata memiliki blog tentang travel dan memiliki foto yang bagus. Lebih lagi kalau blognya berbahasa Inggris. Nah kira-kira dapet ya kriterianya. Karena saya masuk semua itu hehehe, eh ini berdasarkan analisa dan ceki-ceki profile semi finalis sama ngobrol yaa. Walaupun mungkin tidak semuanya cocok.

Saat wawancara, saya hadir di gelombang pertama dengan dress code kuning. Engga ngerti juga kenapa kuning :P. Kemudian ada video 30 detik yang di rekam dengan tema kenapa ingin ke Jepang dan kenapa harus pilih kita. Dan sesi photo sendiri dengan gaya masing-masing. Teutep ya saya levitasi 😀

shinta-japan1Setelah itu, mengisi semacam biodata dengan mengarang bebas di bagian akhir. Iya pelajaran mengarang seperti waktu SD yang harus menceritakan tentang travel yang paling berkesan. Satu halaman cukup. Kemudian masuk ke sesi Interview. Yang di tanya memang awalnya seputar biodata dan langsung di suruh bercerita dalam bahasa Inggris. Memang bahasa Inggris ini adalah syarat wajib. Dan saya engga tanggung loh, soalnya sambil bawah hasil copy tes Toefl ITP qiqiqi yang skornya di atas 500an. Trus saya juga bawa potongan koran yang memuat profil saya sebagai travel writer dan sudah menyiapkan ipad untuk portfolio blog dan photo.

Ternyata walaupun saya sudah siap sedia, tetap saja yang lain ngga kalah gokil wekekek. Saya kurang tau usaha yang lain seperti apa. Tapi saya kebanyakan memang pertanyaan seputar team work dan bagaimana saya mengatur perjalanan saya. Duh rasanya sih oke sampai pada satu pertanyaan saya sudah menikah dan punya anak belom? Yah, masa saya bohong sih wekekek. Ya jujur dong. Dan mungkin ini adalah salah satu kendala traveling buat mereka. Karena saya lihat pemenangnya young, single, dan happy 😀

Pertanyaan terakhir cukup menggelitik buat saya. Apakah saya pernah menang lomba sejenis ini keluar negeri? Spontan saya jawab belum wekekek. Sepertinya para juri udah pada baca blog saya dan sedikit kepo tentang pencapaian saya yang rata-rata memenangkan kompetisi walaupun tidak banyak *tipepemilih. Padahal sudah pernah menang juga hadiah perjalanan tapi ngga keluar negeri 😛

Sebetulnya di bilang kecewa, hmm iya sedikit. Tapi sebetulnya ngga juga. Karena, saya sudah punya rencana mau ke Jepang awal tahun 2015 hehehe. Itu lah kenapa resume saya saat pengisian biodata seleksi terasa menarik. Karena saat ngisi itu, saya lagi browsing dan buat itin ke Jepang qiqiqi. Ya sudah, saya tumpahin deh semua ke dalam isian dan bisa di tebak saya memang terpilih untuk seleksi ^^.

Jadi apapun itu, tetap saja saya akan pergi ke Jepang (insya Allah) Januari 2015 esok. Tunggu saya Jepang 😀

0 0 vote
Article Rating