Merasa sedih tidak, kalau ternyata Indonesia menduduki posisi 60 dari 61 negara yang memiliki minat baca rendah? Pastinya sedih ya. SesuaiĀ studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu itu, ternyata negara kita sudah mulai meninggalkan budaya membaca. Padahal sepertinya sudah sangat banyak perpustakaan keliling dan buku bacaan anak yang bisa dinikmati oleh generasi penerus.

Sayangnya memang, tidak hanya karena sudah memasuki era digital saja, tapi kesenjangan pendidikan terutama akses buku ternyata terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Daerah timur Indonesia misalnya, anak-anak tidak membaca buku bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak adanya akses untuk mendapatkan buku bacaan. Duh sedih ya šŸ™

Tapi saya salut, ternyata ada banyak orang-orang yang peduli dengan anak-anak Indonesia terutama dengan misinya untuk mencerdaskan anak bangsa dengan membaca. Salah satunya adalah Nila Tanzil Founder Taman Bacaan Pelangi, yang berdiri sejak tahun 2009. Selain itu ada Najeela Shihab Founder inibudi.orgĀ yang saya ingat waktu itu ikut menyumbangkan flashdisk untuk digunakan sebagai media pengajaran berbentuk video, yang akan dikirimkan ke daerah-daerah. Kalau dari luar negeri, ada Room To Read yang memiliki misi yang sama untuk negara berkembang yang membutuhkan kesetaraan edukasi bagi perempuan.

Ketiganya berkomitmen untuk mencerdaskan anak bangsa dengan memberikan akses pendidikan terutama bahan bacaan yang selama ini masih sangat kurang. Untuk mendukung hal baik ini, Google.org memberikan hibah sebesar 2.5 juta USD untuk ketiga organisasi non profit ini, seperti yang diumumkan oleh Shinto Nugroho, Head of Public Policy, Google Indonesia di Hotel Fairmont pada hari Kamis tanggal 14 Desember 2017 kemarin.

Membaca adalah isu utama generasi millenial saat ini, karena ternyata diperkirakan dari 100 murid yang masuk sekolah, hanya 25 saja yang memenuhi standar minimum internasional dalam kemampuan membaca dan berhitung. Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang ternyata di wilayah timur, akses untuk membaca masih sangat sulit. Jadi keadaan anak-anak yang kemampuan bacanya masih dibawah standar, bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi buku-buku yang tersedia dan dapat dibaca jumlahnya masih sangat sedikit. Sedih ya.

Hibah Google.org Untuk Anak Indonesia

Selain kita mengenal Google sebagai mesin pencari dan perusahaan besar, Google juga memiliki Google.org yang didirikan pada tahun 2005 dan merupakanĀ inisiatif filantropi dari Google yang mendukung organisasi-organisasi nonprofit yang menggunakan teknologi untuk mengatasi masalah-masalah kemanusiaan. Google.org mendambakan dunia yang adil bagi semua orang dan yakin bahwa teknologi dan inovasi dapat membawa perubahan di 3 bidang utama ini: pendidikan, peluang ekonomi, dan kesetaraan.

Komitmen Google.org pada pendidikan terutama di Indonesia sebagai negara berkembang, ditunjukkan dengan mengibahkan 2.5 juta USD untuk 3 organisasi non profit (inibudi.org, Room to Read, dan Taman Bacaan Pelangi) yang menggunakan teknologi dan inovasi untuk memberikan akses membaca kepada para anak Indonesia.

Joel Bacha, Director of Strategic Expansion Room to Read; Prof. Dr. R. Agus Sartono, Deputi Menko PMK; Najeela Shihab, Founder Inibudi.org; Nila Tanzil, Founder Taman Bacaan Pelangi; Shinto Nugroho, Head of Public Policy, Google Indonesia; Hannah, Google.org

Inibudi.org yang saat ini sedang menjalankan program 1945 flashdisk, yang berisi materi pengajaran dan akan dikirimkan ke wilayah Indonesia, akan menggunakan dana ini untuk membuat materi digital berupa video belajar berkualitas. Karena besarnya wilayah Indonesia dan masih kekurangan guru pengajar, memberikan materi melalui video yang dirancang oleh guru dan orang-orang yang kompeten di bidangnya dirasa efektif untuk meningkatkan mutu dan akses pendidikan di Indonesia.

Cerita Taman Bacaan Pelangi lebih membuka mata lagi, karena ada banyak sekali anak Indonesia di wilayah timur yang belum mendapatkan akses untuk buku berkualitas sehingga mereka kesulitan untuk belajar membaca. Sampai saat ini, Taman Bacaan Pelangi mendirikan 63 perpustakaan yang tersebar dari Lombok, Nusa Tenggara Timur, sampai Puncak Jaya Papua Indonesia. Dengan adanya dana hibah ini, tentunya akan dapat membantu lebih banyak lagi anak Indonesia khususnya wilayah timur untuk memiliki akses ke buku bacaan berkualitas di perpustakaan Taman Bacaan Pelangi.

Lalu ada Room To Read yang berkomitmen memberikan pendidikan setara bagi perempuan di negara berkembang, yang salah satunya adalah Indonesia. Mereka menyalurkan sumbangan dari para donatur seperti kita untuk memberikan buku bacaan, pengajaran pembaca, uang sekolah untuk anak kurang mampu, dan memberikan pelatihan untuk tenaga pengajar. Tentunya dengan mendapatkan bantuan ini akan memberikan dampak positif untuk pengembangan program berbasis teknologi.

Target yang ingin dicapai dengan dana hibah ini tidak main-main. Diharapkan dalam waktu 3 tahun ke depan, akan meningkatkan kemampuan membaca 200.000 anak Indonesia usia sekolah. Organisasi ini juga tidak hanya berfokus pada murid, namun juga untuk para guru-guru yang ingin mengembangkan cara mengajarnya dengan lebih baik.

Kita memang butuh kepedulian tentang membaca terutama untuk generasi milennial. Tidak harus dimulai dengan yang besar, namun bisa mulai di sekitar kita. Tapi tentu saja, hal ini tidak mudah. Banyak cerita para guru yang memulai perpustakaan untuk anak-anak pinggiran dan belum diterima dengan baik. Tantangan akan selalu ada tapi yang pasti jangan pernah menyerah. Yuk budayakan membaca!