Selama ini kita selalu dijejali dengan kata, anak pintar adalah anak yang ranking satu dengan nilai akademik di atas rata-rata. Tidak jarang pemaksaan anak harus belajar agar menjadi pintar, dan mau jadi apa di masa depan, semua sudah diterapkan dan menjadi mimpi dari orang tua. Apakah saya juga berpikir begitu? Orang tua saya iya, bahkan sampai sekarang. Apalagi saya dan suami memang tipe yang mengejar nilai akademik. Bukan karena dipaksa orang tua, karena kami memang memiliki kecerdasan angka yang cocok untuk target akademik.

Sayangnya tidak semua anak begitu, mungkin juga kedua anak kami yang secara kecerdasan angka cukup bagus, tapi ternyata ada banyak hal lain yang saya merasakan tingkat kecerdasan yang berbeda. Dan sampai hari ini, saya selalu membuka mata bahwa apapun kecerdasannya setiap anak memiliki masa depan. Seperti saat saya selalu terheran-heran, kenapa orang Jepang bisa melakukan segalanya dengan expert, sempurna, dan profesional walaupun yang dilakukannya hanya sekecil membuat origami.

Ingatan saya kembali lagi saat menonton film 3 Idiots, yang salah satunya menjadi seorang Photographer Alam. Yang padahal menyelesaikan pendidikan Insinyur di kampus terbaik dengan susah payah. Mulai dari situlah saya berpikir, bahwa pekerjaan itu tidak hanya profesi yang selalu dibanggakan seperti dokter, insinyur, dan sederet cita-cita orang tua untuk anaknya. Setiap orang dapat menjadi apa saja, setiap orang memiliki masa depan, bahkan secara profesional di bidangnya. Anak pun juga sama.

Karena Setiap Anak itu Spesial

Saat kita menjadikan patokan bahwa si kakak lebih pintar dalam bahasa dan si adek lebih pintar dalam matematika, bukan berarti si kakak tidak lebih pintar. Akan tetapi si kakak memiliki kecerdasan lain, yang kalau diasah semenjak kecil akan semakin terlihat. Berbagai profesi pun dapat dijalaninya. Tidak hanya sekedar profesi yang biasa-biasa saja, namun dapat menjadi ahli di bidang yang dikuasainya.

Setiap anak berbeda kecerdasannya, minatnya, bakatnya. Karena itu, perlakukanlah dengan spesial dan sebagai orang tua tentunya harus lebih peka dengan kecerdasan yang dimiliki oleh anaknya. Usia 0-7 tahun adalah usia yang tepat untuk mengasah semua kecerdasan yang tersembunyi. 9 multiple intelligence namanya, di mana ada 9 kecerdasan pada anak yang kita dapat asah untuk masa depan mereka yang lebih baik.

flyer512

Seminar tentang bagaimana mengasah kecerdasan anak ini saya ikuti pada hari Sabtu lalu tanggal 5 Desember 2015 di AXA Tower lantai 36 Kuningan City. Bersama Ibu Elly Risman yang sudah terkenal dengan berbagai seminarnya psikologinya. Para orang tua baik itu yang datang sendiri atau berpasangan, sangat antusias untuk mengikuti sampai akhir. Apalagi ada latihan bagaimana membuat alat untuk mengasah kecerdasan anak sedari kecil.

Yang lebih membuat Ibu Elly terharu saat memasuki ballroom adalah hadirnya Daddycation Indonesia. Sebuah komunitas para ayah yang memiliki keinginan untuk belajar dan peduli terhadap anak mereka. Tidak ketinggalan Supermoms Indonesia menjadi panitia sudah rutin menyelenggarakan seminar, karena keingintahuan mereka yang besar dalam ilmu membesarkan anak. Dan hari itu menjadi hari panjang bagi saya untuk bisa mengenali kecerdasan kedua anak saya. Walaupun usia mereka sudah usia SD dan diatas 7 tahun semua. *iya saya masih muda banget *ngga ada yang percaya saya punya anak SD *uhuk.

9 Multiple Intelligence – Versi Howard Gardner

Teori tentang 9 kecerdasan pertama kali diperkenalkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dan professor dari Harvard University. Teori ini dipopulerkan pada tahun 1983. Menurut Gardner, semua manusia memiliki 9 kecerdasan yang unik dan tidak sama dengan orang lain. Kecerdasan ini terletak pada berbagai tempat di otak yang bekerja sendiri atau bersama-sama. Sifatnya sangat mudah dirangsang dan diperkuat. Untuk meningkatkan kecerdasan ini, dapat dirangsang sedari kecil dan akan mempengaruhi bagaimana anak akan melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Sumber Gambar : inopen.in
Sumber Gambar : inopen.in

Kecerdasan ini dimiliki oleh setiap orang. Lebih baik lagi dikenali kecerdasan seorang anak sedari kecil. Sehingga kita sebagai orang tua mampu mengembangkan seluruh kecerdasannya. Jadi peer kita Dan di masa depan mereka akan mampu menjadi orang yang sukses. Masing-masing 9 tipe kecerdasan anak yang dapat kita amati semenjak mereka berusia 0-7 tahun adalah :

  • Visual/Spatial (Cerdas Gambar)

Tipikal anak yang cerdas gambar adalah anak yang memiliki pengamatan yang tinggi, memiliki kemampuan imajinasi, dapat menuangkan dalam bentuk gambar dan karya-karya. Memiliki kemampuan menggambar dalam pikiran dalam bentuk bayangan imajinasi, pola, dan desain. Mereka dapat menggambarkan dalam hal yang bersifat nyata juga yang imajinasi. Anak ini mampu membayangkan bentuk-bentuk geometri dan 3 dimensi. Selain itu juga dapat memvisualisasikan dalam bentuk grafik. Tipe anak ini adalah pengamat alam sekitar (mata super) yang mampu menginterpretasikan gambar, melukis, navigasi, dan membuat peta (iconic).

Bagaimana cara mendeteksinya? yaitu dengan diamati bahwa bahwa anak ini suka dengan poster gambar, film, dan tampilan visual lainnya. Kadang suka terlihat sebagai pemimpi dan suka tenggelam dalam pikirannya sendiri. Terlihat sebagai pengamat baik lingkungan. Selain itu juga ahli dalam menggambar, mengerjakan puzzle, menebak bayangan, dan kemampuan lain yang membutuhkan manipulasi motorik yang tinggi.

Rangsangan untuk anak cerdas spasial dapat menggunakan berbagai cara. Antara lain melengkapi rumah dengan alat yang berbau seni, menyediakan peralatan untuk menggambar atau melukis, membiarkan mengatur atau menghias ruang tidur, gunakan peta untuk mencari jalan menuju suatu tempat, dan asah kemampuan dengan mengenal jalan berdasarkan rute. Selain itu juga dengan cara mendorong untuk terus meningkatkan hobinya seperti photography, videography, dan catur.

  • Verbal/Linguistic (Cerdas Bahasa)

Anak yang cerdas bahasa memiliki semua kemampuan bahasa, yaitu kecakapan berkomunikasi, berbicara ataupun menuliskan pikirannya, bicara dengan intonasi yang tepat, pemaknaan ulang kata, serta kemampuan untuk memahami bahasa yang kompleks. Selain itu, anak ini juga memiliki bakat belajar yang tinggi, mampu menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan tertentu, dan mampu mengekspresikan dirinya secara retorik atau berirama.

Cara mendeteksi anak cerdas bahasa adalah dilihat dari kecil anak cepat bicara dan suka sekali berbicara. Kemudian juga suka dengan buku mudah mengingat kata/vocab yang banyak. Suka banyak bicara dan gramatically correct. Terkadang suka memberi alasan yang panjang dan suka membaca selama berjam-jam. Selain itu sangat suka menceritakan apa yang dibaca beserta pengalamannya. Sangat mudah belajar bahasa asing dan suka teka-teki.

Rangsangan untuk mengoptimalkan anak yang cerdas bahasa ini adalah dengan memperbanyak perbendaharaan kata, minimal 5 kosakata baru dalam sehari. Bisa juga dengan membacakan cerita dan menanyakan kembali apa pesan dari cerita tersebut. Selain itu dapat dirangsang dengan memberikan buku diary dan minta untuk menuliskan kesehariannya. Sebagai orang tua, yang dapat kita lakukan adalah sediakan buku dana bahan lainnya. Banyak-banyaklah bercerita, berdiskusi, dan menonton film bersama untuk didiskusikan kemudian.

  • Mathematical/Logical (Cerdas Angka)

Anak dengan cerdas angka ini senang sekali mengeksplorasi sekitarnya. Kemudian suka juga bereksperimen, menghitung, dan mengklasifikasi benda, serta menuntut jawaban logis dari setiap pertanyaannya. Memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, senang menghitung, tekun, suka membaca, senang berkutat dengan rumus dan pola abstrak serta memberikan argumentasi secara rasional.

Bagaimana merangsang kecerdasan angka pada anak? bisa dengan menyediakan sarana yang dibutuhkan anak. Seperti misalnya menyiapkan barang-barang bekas untuk diolah menjadi alat peraga, contohnya puzzle, permainan angka, permainan klasifikasi, dan kategorisasi, mainan bongkar pasang, domino, atau ular tangga. Lebih mudah lagi dengan cara mengenalkan angka dengan bernyanyi sambil berhitung, memberikan runag untuk membaca dan menggambar, dan selalu melibatkan anak dalam kegiatan keluarga. Untuk mengasuh anak dengan cerdas angka diperlukan penyajian yang kreatif dan variatif. Lebih banyak lakukan pembelajaran di ruang terbuka dan perkenalkan matematika sambil bermain.

  • Bodily/Kinesthetics (Cerdas Gerak)

Cerdas gerak didefinisikan sebagai kemampuan untuk memakai segenap tubuh atau bagian tubuh untuk memecahkan sebuah masalah atau membuat sesuatu menjadi berarti. Anak cerdas gerak sangat menyukai aktivitas yang menggunakan tubuh atau anggota tubuhnya. Sangat gemar berbicara dengan kedua tangannya. Senang mematut diri di depan kaca sambil bernyanyi atau berbicara. Sulit untuk duduk diam saat belajar atau makan dan dapat meniru sisi terbaik atau buruk dari orang tua.

Aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengasuh anak cerdas gerak adalah dengan bermain kata lewat gerakan, membantu membuat kue atau bertaman, mengajak hiking atau olah raga, meminta menggunakan tubuhnya untuk berekspresi. Kita dapat mengikutkan kursus melukis, keramik, dan menenun untuk mempertajam kecerdasan geraknya.

  • Musical/Rhythmic (Cerdas Nada)

Anak cerdas nada sangat mengenali pola nada, tinggi rendahnya nada, melodi dan irama. Sangat peka terhadap bunyi-bunyian. Untuk mengenali anak yang cerdas nada kita dapat mendeteksinya dengan mengamati saat anak-anak bereaksi kuat pada suara tertentu. Terlihat kemajuan yang cepat saat memainkan instrumen, dapat menyanyikan lagu dengan tangga nada yang tepat, dan mudah sekali menghapal lagu. Untuk merangsangnya bisa dengan memberikan suasana rumah yang full musik, bisa juga dengan berlatih bersenandung, atau bernyanyi sambil bergoyang, dan mendengarkan musik bersama.

  • Intrapersonal (Cerdas Diri)

Anak yang cerdas diri ini memiliki perasaan yang sensitif dan peka. Sehingga memahami apa yang ia ingin lakukan dan tidak ingin lakukan. Anak ini juga memahami situasi dan bagaimana harus bersikap di situasi tersebut. Memiliki kemampuan memahami dan mengungkapkan perasaan orang lain. Rata-rata anak dengan cerdas diri itu pendiam dan suka berimajinasi. Sangat pemalu tapi dia sebenarnya sedang mengamati dirinya sendiri dan sekitarnya. Anak ini akan terlihat tidak suka berbaur tapi tidak anti sosial. Kreatif, produktif, sangat mandiri, disiplin tinggi, dan suka bekerja sendiri adalah ciri lainnya.

Untuk mendeteksi anak cerdas diri adalah dengan mengamati bahwa anak ini suka membaca, menulis, menggambar, membuat diary, suka dengan autobiografi, dan menerima tanggung jawab. Selain itu juga peka terhadap nilai, tujuan, dan perasaan dirinya sehingga menjadikan mereka mandiri, PD, kerja keras mencapai tujuan serta disiplin.

Cara mengoptimalkan anak yang cerdas diri adalah dengan membiasakan anak untuk menuliskan kata hatinya, melatih untuk berpikir mengenai dirinya sendiri, mendengarkan perasaan dan idenya, serta dorong anak untuk mengekspresikan emosinya. Tidak lupa juga untuk selalu memberikan waktu tenang dalam jadwal harian keluarga.

  • Interpersonal (Cerdas Sosial)

Cerdas sosial itu artinya anak mudah berinteraksi dengan orang lain, memahami perasaan mereka, mampu menterjemahkan perilaku mereka, suka mengamati perbedaan tiap-tiap orang khususnya perubahan suasana hati, watak, motivasi, dan tujuan. Cerdas sosial juga berarti mudah berempati, memahmi adanya diskriminasi dan buruk sangka, tidak menyukai lelucon yang merendahkan etnis atau jenis kelamin, suka bekerja sama dengan orang lain, mempunyai keterampilan memimpin, mengorganisasikan, bagus dalam komunikasi, suka menawarkan bantuan kepada orang lain untuk menyelesaikan masalah, dan mau berkompromi.

Anak yang cerdas sosial terlihat dari sifatnya yang menyenangkan dalam pergaulan. Memiliki ide-ide yang bagus untuk masuk dalam kelompok, mudah berinteraksi dan bekerja sama, dan memiliki kemampuan untuk berempati untuk merasakan perasaan pikiran motivasi dan tujuan orang lain. Selain itu juga bisa mempengaruhi pendapat dan pikiran orang.

Untuk merangsang kecerdasan sosial anak, dapat dilakukan dengan melatih tanggung jawabnya dan berdiskusi dengan berbagai hal. Kita juga dapat mendengarkan pendapat anak, diajarkan menghargai sesama teman, bekerja sama menyelesaikan konflik, melakukan aktivitas sosial, dan diajarkan untuk menumbuhkan sikap penuh pengertian.

  • Naturalist (Cerdas Alam)

Anak yang cerdas alam sangat menyukai dan mengeksplorasi alam. Tertarik untuk mengamati tumbuhan, binatang, bintang, dan mempertanyakan asal-usul sebab akibat dan sebagainya. Cara mudah untuk mendeteksinya adalah dengan memperhatikan kepeduliannya terhadap alam sekitar, kepeduliannya pada flora dan fauna, mampu mengelompokkan fenomena alam, terpengaruh pada kejadian atau pengelolaan alam yang tidak benar.

Untuk merangsang kecerdasan alamnya, dapat memberikan hadiah untuk mengamati alam. Seperti teropong, kaca mata renang, peralatan hiking. Selain itu juga dapat langsung mengajari tentang alam, tumbuhan, bebatuan, dan bisa belajar dari gejala alam yang terjadi.

  • Existential (Cerdas Hidup)

Spiritual intelegensi mengacu pada keterampilan, kemampuan, dan perilaku yang diperlukan untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan dengan sumber utama dari semua (Tuhan YME). Anak akan selalu bertanya tentang eksistensi dirinya. Kebanyakan yang ditanyakan adalah tentang ketuhanan seperti pertanyaan tentang kehidupan dan penciptaan Allah/Tuhan. Anak cerdas spiritual sangat memperhatikan makhluk hidup dan juga alam sekitar. Dan selalu mempertanyakan apakah bisa menjadi makhluk lain.

Untuk merangsang kecerdasan anak adalah dengan banyak membaca buku dan bercerita terutama tentang penciptaan alam semesta. Selain itu juga dapat dikenalkan dengan nabi-nabi dan kitab suci. Hal lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak berjalan-jalan menikmati alam. Selain itu juga dapat dikenalkan dengan berbagai gejala alam.

Setelah mengenali bagaimana kecerdasan yang mampu dimiliki anak dan bagaimana cara mengembangkannya, ada baiknya sebagai orang tua juga mengenali lebih dulu kecerdasan dirinya masing-masing. Hal ini akan mempermudah untuk mengajarkan dan biasanya kecerdasan orang tua kan menurun. Tapi dalam hal ini, apabila kita memiliki anak usia 0-7 tahun, bukalah semua kesempatan untuk merangsang 9 kecerdasan tersebut.

Sehingga di masa depan, apabila semua kecerdasannya telah dirangsang, maka anak akan mampu menemukan kemampuan dirinya. Maka dari itu, tidak ada anak yang akan memiliki masa depan yang tidak baik apabila kita mampu mengeluarkan segala potensinya.