Once upon a time, saya tergila-gila dengan Chad Michael Murray. Seorang Kaukasian ganteng yang jadi pangerannya Hillary Duff di A Cinderella Story. Sebelumnya udah lihat juga sih di Freaky Friday, tapi rasanya kurang menarik aja dengan rambut gondrongnya. Dan di film Cinderella itu, Chad beneran charming abis ditambah adegan dansa dengan lagu I’ll Be nya Edwin McCain. Terhipnotislah saya dengan kisah Cinderella. Dan ngarep punya pangeran si Chad.

Berbagai versi kisah Cinderella pernah saya tonton juga. Selain A Cinderella Story juga ada Ever After-nya Drew Barrymore, Ella Enchanted-nya Anne Hathaway, dan beberapa film adaptasi lainnya. Tapi rasanya kurang begitu menarik saat ditonton dan beberapa bikin saya ngantuk. Kemudian, karena channel wajib di rumah adalah Disney Channel, mau ngga mau saya jadi ikutan nonton Cinderella Movie Seriesnya. Jadi waktu tau ada film Cinderella versi klasik dengan cerita aslinya, rasanya excited banget pengen nonton. Dan karena si kakak penggemar kisah Disney, dia udah kaya marking tanggal dan mengingat tanggal 12 Maret adalah premier film Cinderella.

Sinopsis

Pecinta kisah Disney Cinderella ataupun bukan, pasti tau garis besarnya kisah ini. Sebetulnya ngga perlu saya ceritakan lagi. Tapi, yang menarik di kisah ini adalah detail dari penjelasan yang banyak ditanyakan di versi kartunnya. Seperti kenapa orang tuanya Cinderella meninggal, masa iya papahnya mau ingin menikahi perempuan yang wajahnya terlihat mengerikan itu, sepatu kaca pastinya sangat tidak nyaman, siapa nama sebenarnya prince charming, kenapa prince charmingnya bisa jatuh cinta dengan Cinderella hanya dengan sekali bertemu dan berdansa semalam saja.

cin

Dan semua terjawab wekekek. Sedari awal, memang kisah di versi animasinya agak sedikit aneh. Kurang banyak bercerita. Tapi setelah nonton film ini, ah saya bisa bernapas lega karena jawabannya ada semua di film ini. Ngga bermaksud spoiler, tapi detail kisahnya sangat menarik dan tidak membosankan. Apa dan kenapa orang tua Cinderella meninggal, diceritakan secara jelas. Ibunya yang sakit keras dan ayahnya yang sakit dalam perjalanan bisnisnya. Kemudian, si step mother yang bernama Lady Tremaine (janda teman papahnya) ternyata sangat cantik dan masih muda yang membuat papahnya Cinderella mau menikahinya.

Pertanyaan terbesar tentunya tentang sepatu kaca. Kenapa sepatunya tidak ikut berubah seperti halnya labu, tikus, kadal, bahkan bajunya yang sudah sobek itu. Karena ternyata, sepatu itu bukan disihir dari sepatu jeleknya Cinderella, akan tetapi memang dibuat langsung oleh fairy godmothernya. Jadi jelas banget kalau itu tidak akan kembali seperti semula. Bahkan ditekankan oleh fairy godmothernya, walaupun sepatu ini terbuat dari kaca, akan sangat nyaman digunakan. Tau aja ini fairynya pertanyaan besar saya hehehe.

Pertanyaan lainnya adalah tentang bagaimana ibu tiri dan kedua kakak tirinya, tidak mengenali Cinderella saat pesta itu. Well, jawabannya ada wekekek. Jadi karena Cinderella menyadari kalau dia akan dikenali, fairy godmothernya juga menyihir wajah Cinderella supaya tidak dikenali. Dan kakak tiri serta ibunya hanya akan melihat dia gadis lain dengan baju pesta yang menawan.

Begitupun tentang pangerannya. Dia menyebutkan nama loh. Kan selama ini kita taunya hanya prince charming aja kan, tapi di film ini dia dengan jelas menyebutkan nama panggilannya. Dan kenapa hanya dalam sekejap pangeran bisa sangat jatuh cinta dengan Cinderella hanya dengan sekali pertemuan? Dalam beberapa menit pertemuan di hutan, Cinderella menunjukkan kecerdasan luar biasa yang membuat pangerannya terpesona. Perbincangan itu, sangat singkat namun bermakna mendalam. Untuk ukuran pangeran yang terpelajar, dia akan merasa suka dengan perempuan yang tidak hanya cantik namun dapat diajak bicara bukan. Itulah Cinderella yang ada di film ini.

Review

Tadinya saya ngga berharap banyak. Yah karena garis besarnya juga sudah tau dan karena ini versi klasik saya kira ngga ada terlalu banyak kejutan yang menarik. Tapi, bukan Disney namanya kalau ngga bisa memberikan kejutan. Film yang ratingnya semua umur ini, sukses bikin saya ngga berkedip melewatkan setiap dialognya. Begitu juga si kakak yang terpesona lihat gaunnya dan the main idea of princess. Ups ini ngga berlaku buat si adek yang cowo ya, yang sepanjang film dia gelisah naik turun tempat duduk dan lari-larian di bioskop wekekek.

Yang paling saya suka di film ini adalah aktingnya Cate Blanchett yang bisa bikin tenggelam si Lily James karena kalah dalam pendalaman karakter. Beberapa kali saya lihat, Lily yang cantik ini ngga bisa mengimbangi kuatnya karakter Wicked Stepmother. Sound efeknya, saya bisa bilang keren banget. Sangat real dan bikin jantung saya berdetak. Apalagi saat Ella masuk ke bals, itu rasanya pengen nangis qiqiqi (drama bener). Gimana sih, saya yang terlalu mendalami kisahnya terus ekspektasi filmnya ternyata melebihi dari yang saya harapkan. Itu rasanya puas banget. Dan kalau menonton bersama anak, saya bisa bilang totally safe 🙂

Ater all, semuanya hanya tentang sepatu. Iya sepatu kaca yang legendaris itu dan bagaimana hidup seseorang bisa berubah hanya dengan sepatu. Coba kalo sepatunya ngga lepas wekekek ngga akan jadi ratu kan si Cinderellanya. Yap bukan princess ya, tapi ratu karena raja si ayahnya pangeran sudah mangkat sebelum pangeran menemukan si Cinderella dan otomatis pangeran menggantikan. Ah saya juga mau ketinggalan sepatu trus dituker Louboutin gitu :p

NB. Oia sebagai bonus, di awal film ada cerita pendek tentang Frozen loh. Judulnya Frozen Fever. Buat yang kangen Anna dan Elsa, lumayan banget bisa mengobati kerinduan. Dan si kakak, yang seneng banget dong dapet cerita berbeda tentang Frozen ini ^^.