Pernah ngga bunda, ngerasa terkadang setiap masalah yang kita hadapi solusinya mengacu pada serial televisi? Duh saya ngga ngomongin sinetron Indonesia kita yang morat marit dengan segala kelicikan, dengki, intrik yang ngga jelas dan apalah itu hehehe

Hari ini sudah seminggu anak saya yang paling kecil si Rafi mogok masuk sekolah, padahal semenjak pindah ke Tangerang dia semangattt bangett sekolah. Sampai-sampai minta tiap hari sekolah, karena jadwal Playgroup di Tangerang hanya seminggu tiga kali dan sudah terbiasa sekolah setiap hari di Balikpapan.

Usut punya usut, ternyata masalahnya adalah dia mengaku kalau malas sekolah karena takut dimarahi sama bu guru (jleb). Qeqeqe saya tau pasti ibu gurunya sudah sedemikian kesal sama Rafi, dan mungkin maksudnya juga bukan memarahi tapi karena keseringan di kasih tau, lama-lama Rafi menganggap bahwa ibu guru bisanya ngasii tauu ajaa.

Well, saya sadar juga kalau anak lelaki saya yang satu ini sangat super duper hiperaktif. Pertama, anaknya ngga bisa diam, kedua selalu aja badan dan tangan bergerak entah membongkar buku, mencoret tembok, memukul tv yang ukurannya melebihi tinggi badan dia dan yang terakhir menyiram decorder first media dengan parfum yang membuat ibu saya nangis-nangis karena ngga bisa nonton gossip selebritis yang ngga penting itu hahaha.

Ketiga saya tau Rafi anak yang cerdas (ehem), ini pengakuan gurunya juga kalau Rafi sangat menonjol di kelas dan bisa mengulang semua pelajaran dengan baik. Di usia yang sangat dini (3 tahun), memang rafi kelihatan lebih menonjol dibandingkan kakaknya. Dia sudah bisa menghapal Asmaul Husna sampai 40 (saat ini), doa-doa kecil seperti mau tidur, mau makan, Al fatihah, Annas, dan surat-surat kecil lainnya dengan sangat baik. Bahkan kadang Rafi yang mengingatkan saya untuk mengangkat tangan saat berdoa saat saya lupa.

Balik lagi, kenapa dia ngga mau sekolah ??. Diantara semua kelebihannya itu, nyangkutlah satu masalah dia yaitu EGOIS. Saya tau persis kalau memang Rafi ini haus kasih sayang dan selalu ingin diperhatikan. Bunda, inilah sedikit masalah kalau punya anak 2 dalam rentang waktu yang sangat berdekatan (11 bulan). Aliya dan Rafi selalu ingin lebih diperhatikan, jadi misalkan saya sama si kakak lagi sayang-sayangan di tempat tidur tiba-tiba Rafi langsung merangsek (apa sih bahasanya) masuk ke tengah-tengah kami seakan ngga rela kalau mamanya hanya dimiliki si kakak dan ini hanya salah satunya saja.

Ketika saya observasi ke sekolah dan berbicara dengan gurunya, terungkaplah semua kejanggalan yang saya rasakan. Jadi kata ibu guru si Rafi ini kurang mau berbagi sama temannya terutama mainan, kemudian suka merebut punya teman tanpa meminta ijin terlebih dahulu, trus dia juga suka main pukul aja ke temennya (gubrak) dan terakhir dia sangat sensitive sekali. Makjleb rasanya, segala tata karma yang saban hari di cekokin kok rasanya hilang semua sama si Rafi ini. Dan juga sepertinya dia harus berhenti nonton kartun Boboi Boy yang bercerita tentang superhero.

Terkadang Rafi juga meminta maaf sama ibu guru dan teman-teman dan berjanji ngga akan mengulangi lagi, tapii kata ibu guru selang 2 hari balik lagi seperti itu. Duh rasanyaa bunn, kok saya salah bangett ya sampai anak saya attitudenya seperti itu di sekolah padahal kalau dirumah bisa dikasi tau dan nurut sama saya. Tapii saya tau persis, dulu papahnya si Rafi ini sama hiperaktif dan attitude kurang sampai-sampai Eyang kakung mengajar keras kepada Papahnya si Rafi ini (hahaha paling enak nyalahin orang yak).

Setelah bertukar pikiran dengan ibu guru, akhirnya saya punya solusi untuk mengatasi kehidupan sosial Rafi di sekolah. Berawal dari kesukaan saya menonton serial barat yang berjudul Parenthood, yang berisi penuh drama tentang menjadi seorang orang tua dengan segala masalah yang saya pikir dramanya ini sangat mendekati realita kehidupan sebagai orang tua. Must watch drama for parents with teenage, baby, or even Autis (Asperger syndrome) kids.

Ada satu episode dimana Max (Asperger Syndrome) yang tidak diundang ke pesta ulang tahun teman sekelasnya. Ibunya langsung merasa ada yang salah dan kemudian mencari tau dengan berbicara langsung pada ibu yang berulang tahun, akhirnya terungkap bahwa bermain dengan Max itu tidak menyenangkan karena dia egois dan suka marah-marah sehingga apabila diundang ke ulang tahun akan membuat suasana tidak nyaman.

Saya sangat suka dengan episode ini, karena si Ibu Max langsung cepat mencari solusi dengan cara mengundang anak dan ibu yang akan mengadakan pesta ulang tahun ke rumah. Kemudian Max dan anak itu akan bermain dirumah dan didampingi oleh psikolog anak (Asperger syndrome), lalu psikolog tersebut akan mengajarkan max bagaimana seharusnya bersosialisasi dengan teman sebaya termasuk kalau pinjam mainan harus minta ijin, kemudian kalau kalah harus memberi selamat dan segala attitude yang harus di lakukan dalam kehidupan bersosialisasi. Hasilnya, Max langsung diberi undangan ulang tahun dan attitudenya di kehidupan social juga menjadi sangat baik.

Bukannya saya mau bawa psikolog juga ke sekolah hahaha engga, yang saya tawarkan ke gurunya adalah membolehkan pengasuh Rafi untuk ikut masuk ke dalam kelas dan di dalam kelas si teteh akan mengawasi semua yang Rafi kerjakan. Sehingga pada saat misalnya dia merebut mainan teman, tetehnya akan dengan sigap memberi peringatan untuk meminta ijin terlebih dahulu dan hal-hal lain yang dirasa akan membuat ketidaknyamanan.

Yang kedua saya minta laporan setiap hari dari guru apabila Rafi melakukan tindakan yang dirasa tidak patut secara rinci, misalkan dia mengambil makanan siapa sehingga saya bisa melakukan penjelasan yang rasional kepada Rafi kalau hal tersebut tidak boleh dilakukan. Alhamdulillah ibu guru dan kepala sekolah senang dengan usulan saya dan rada takjub rasanya saya punya ide seperti ini (ngga tau aja inspirasi idenya hehe).

Fiuhh hari yang cukup berat buat saya, karena saya merasa masa golden age adalah masa penting yang menjadi pondasi untuk ke masa depan. Mudah-mudahan saja solusi saya bisa berhasil dan Rafi bisa diperbaiki attitudenya.

Well siapa bilang nonton drama ngga ada gunanya hehehe.